Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan

Hati-hati dengan Faham Jaringan Islam Liberal (JIL)

Orang JIL sangat senang bikin pernyataan kontroversial tentang syariat Islam, misalkan Nurkholis Majid yang menyatakan Iblis akan masuk surga karena tidak mau sujud kepada Adam, atau Ulil Abshar Abdala yang menyatakan semua agama itu sama, atau pernyataan kontroversial mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Bandung tahun 2003 silam yang menyebutkan Anjinghu Akbar dan lain sebagainya.

Teman saya juga ada yang mengirim pesan, bahwa dia akan mendirikan agama baru, nabi baru, dia kuliah di Universitas Islam di Cirebon, ada juga yang mencoba melempar opini, andai Muhammad turun di Bandung tentu tak akan berjenggot, tak akan ada jilbab, tak akan ada hukum potong tangan dan lain sebagainya. Mereka paling senang melempar pernyataan kontroversi seperti di atas. Jika kita beritahu mereka bahwa mereka sudah terasuki faham JIL, mereka mengelak, bahwa pernyataan mereka hanya untuk memancing orang untuk mengeluarkan pendapatnya. Supaya lebih bisa kritis berpikir.Tapi justru itu, kalau pernyataan-pernyataan yang mereka lontarkan untuk membangun Islam, kenapa seakan-akan mereka menyerang Islam? Menyerang syariat? Apakah mereka pikir agama ini adalah sebuah permainan? Padahal mereka tahu bahwa berandai-andai itu sungguh termasuk perbuatan syetan.

Itulah tabiat mereka, menyerang dan menjelek-jelekan agama sendiri. Kalau dikatakan mereka keliru, mereka bilang tidak menghargai pendapat orang lain, lho? Justru bukannya mereka yang mulai menyerang? Melempar statemen-statemen kontroversial tentang agamanya sendiri?

Dalam Islam justru Islam-lah yang paling menghargai pendapat dan perbedaan, tapi ketika perbedaan yang menyangkut Tauhid (dalam istilahnya Ushuludin) itu lain lagi ceritanya. Perbedaan itu bukan dalam hal yang telah ada nash Al-Quran dan Haditsnya. Ketika perbedaan menyangkut Tauhid dan Syariah itu lain lagi ceritanya. Yang ditolerir itu adalah perbedaan dalam Syariat (Fiqih). Ketika mereka mempermasalahkan hukum potong tangan misalnya, itu lain lagi ceritanya. Karena masalah Qishah itu telah ada dalam Al-Quran Haditsnya.

Pembaca yang budiman, di masa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam masih hidup ada dua golongan musuh Islam yaitu orang kafir dan orang munafiq. Di antara kedua golongan ini orang-orang munafiq adalah yang paling berbahaya bagi ummat Islam, karena mereka mengaku Islam namun pada hakekatnya menghancurkan Islam dari dalam. Dan hal ini senantiasa terjadi di sepanjang jaman, begitu pula di jaman kita sekarang ini bahkan di negeri yang kita tinggali ini.

Alloh Ta’ala memerintahkan kepada Nabi dan orang-orang yang beriman supaya berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq. Alloh berfirman, “Wahai Nabi berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq dan bersikap keraslah pada mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (At Taubah : 73).

JIL mengganyang Islam Salah satu musuh yang kini tengah dihadapi ummat Islam adalah ajaran sesat yang dibawa oleh Jaringan Islam Liberal/JIL. Sehingga kerancuan yang mereka tebarkan perlu dibantah, apalagi orang-orang yang membawa pemikiran sesat ini adalah tokoh-tokoh yang digelari cendekiawan, kyai dan intelektual. Sebenarnya pernyataan mereka terlalu menyakitkan untuk ditulis dan disebarluaskan, namun demi tegaknya kebenaran maka dalam kesempatan ini akan kami bawakan beberapa contoh kesesatan pemikiran mereka yang dengannya pembaca akan mengetahui betapa rusaknya akidah Islam Liberal ini.

Orang JIL tidak paham tauhid Nurcholis Majid menafsirkan Laa ilaaha illalloh dengan arti tiada tuhan (t kecil) kecuali Tuhan (T besar). Padahal Rosululloh, para sahabat dan para ulama dari jaman ke jaman meyakini bahwa makna Laa ilaaha ilalloh adalah tiada sesembahan yang benar kecuali Alloh. Dalilnya adalah firman Alloh, “Demikian itulah kuasa Alloh Dialah sesembahan yang haq adapun sesembahan-sesembahan yang mereka seru selain Alloh adalah (sesembahan) yang batil..” (Al Hajj : 62). Nah satu contoh ini sebenarnya sudah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa ajaran JIL adalah sesat karena menyimpang dari petunjuk Rosululloh dan para sahabat. Walaupun dalam mempromosikan kesesatannya mereka menggunakan label Islam, tapi sesungguhnya Islam cuci tangan dari apa yang mereka katakan.

Orang JIL tidak paham kebenaran Ulil Abshar mengatakan bahwa semua agama sama, semuanya menuju jalan kebenaran, jadi Islam bukan yang paling benar katanya. Padahal Al Qur’an dan As Sunnah menegaskan bahwa Islamlah satu-satunya agama yang benar, yaitu Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Alloh Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya agama yang benar di sisi Alloh hanyalah Islam” (Ali Imron : 19). Nabi juga bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah ada seorang pun yang mendengar kenabianku, baik Yahudi maupun Nasrani kemudian mati dalam keadaan tidak beriman dengan ajaran yang aku bawa kecuali pastilah dia termasuk di antara para penghuni neraka” (HR. Muslim). Kalau Alloh dan Rosul-Nya sudah menyatakan demikian, maka anda pun bisa menjawab apakah yang dikatakan Ulil ini kebenaran ataukah bukan?.

Orang JIL tidak paham Islam Para tokoh JIL menafsirkan Islam hanya sebagai sikap pasrah kepada Tuhan. Maksud mereka siapapun dia apapun agamanya selama dia pasrah kepada Tuhan maka dia adalah orang Islam. Allohu Akbar! Ini adalah jahil murokkab (bodoh kuadrat), sudah salah, merasa sok tahu lagi. Cobalah kita simak jawaban Nabi ketika Jibril bertanya tentang Islam. Beliau menjawab, “Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, engkau menegakkan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Romadhon dan berhaji ke baitulloh jika engkau sanggup mengadakan perjalanan ke sana” (HR. Muslim). Siapakah yang lebih tahu tentang Islam; Nabi ataukah orang-orang JIL ?

Orang JIL menghina syari’at Islam Ulil Abshor mengatakan bahwa larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam sudah tidak relevan lagi. Padahal Alloh Ta’ala telah berfirman, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku telah ridho Islam menjadi agama kalian” (Al Ma’idah : 3). Kalau Alloh yang maha tahu sudah menyatakan bahwa Islam sudah sempurna sedangkan Ulil mengatakan bahwa ada aturan Islam yang tidak relevan -tidak cocok dengan perkembangan jaman- maka kita justeru bertanya kepadanya : Siapakah yang lebih tahu, kamu ataukah Alloh?!.

Orang tidak tahu kok diikuti ? Demikianlah beberapa contoh kesesatan pemiiran JIL. Kita telah melihat bersama betapa bodohnya pemikiran semacam ini. Kalaulah makna tauhid, makna Islam adalah sebagaimana yang dikatakan oleh mereka (JIL) niscaya Abu Jahal, Abu Lahab dan orang-orang kafir Quraisy yang dimusuhi Nabi menjadi orang yang pertama-tama masuk Islam. Karena mereka meyakini bahwasanya Alloh-lah pencipta, pengatur, pemberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan, yang mampu menyelamatkan mereka ketika tertimpa bencana, sehingga ketika mereka diombang-ambingkan oleh ombak lautan mereka mengikhlashkan do’a hanya kepada Alloh, memasrahkan urusan mereka kepada-Nya.

Namun dengan keyakinan semacam ini mereka tetap saja menolak ajakan Nabi untuk mengucapkan Laa ilaaha illalloh. Bahkan mereka memerangi Rosululloh, menyiksa para sahabat dan membunuh sebagian di antara mereka dengan cara yang amat keji. Inilah bukti bahwa orang-orang JIL benar-benar tidak paham Al Qur’an, tidak paham As Sunnah, bahkan tidak paham sejarah !!.

Himbauan Melalui tulisan ini kami menghimbau kepada segenap kaum muslimin agar menjauhi buletin, majalah, siaran TV atau radio yang digunakan oleh JIL dalam menyebarkan kesesatan mereka dan bagi yang memiliki kewenangan hendaklah memusnahkannya. Karena Alloh Ta’ala telah memerintahkan, “Wahai Nabi berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq dan bersikap keraslah pada mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (At Taubah : 73). Dan ketahuilah bahwasanya tidak ada yang bisa membentengi kaum muslimin dari kebinasaan kecuali dengan kembali berpegang dengan Al Qur’an dan As Sunnah serta pemahaman para salafush sholih (sahabat dan murid-murid mereka). Dan Rosululloh telah menegaskan bahwasanya ilmu itu hanya bisa diraih dengan cara belajar (lihat Fathul Bari). Semoga tulisan yang singkat ini bisa meruntuhkan kerancuan-kerancuan yang ditebarkan oleh musuh-musuh Alloh dan Rosul-Nya.

Imam Al Auza’i berpesan, “Wajib atas kalian mengikuti jejak salaf (para sahabat) walaupun banyak manusia yang menentangmu. Dan waspadalah dari pemikiran-pemikiran manusia meskipun mereka menghiasinya dengan perkataan-perkataan yang indah di hadapanmu”. Hanya kepada Alloh-lah kita memohon perlindungan. Wallohu a’lam.

Disarikan dari tulisan Abu Mushlih Ari Wahyudi
0 komentar

Mandi, Cara Menurunkan Demam… Ingin Tahu Khasiatnya?

Para Nabi dan Rasul adalah manusia mulia yang senantiasa menghidupkan waktu sepertiga malam sampai fajar. Untuk itu mereka adalah manusia yang paling sehat dibanding umatnya. Keteladanan ini diikuti para tabiin, tabiut tabiin dan salafush shalih. Mereka meraih kesehatan dengan banyak mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, dan Insya Allah termasuk kebiasaan mandi dikala fajar.
Dr. Abdul Hamid Dayyat dan Universitas Kairo, Mesir menjelaskan maanfat kesehatan yang diperoleh orang dengan bangun pagi banyak sekali. Diantaranya, gas O3 di udara sangat melimpah saat fajar, kemudian berkurang sedikit demi sedikit, hingga habis ketika matahari terbenam.
Gas O3 mempunyai pengaruh yang positif pada urat saraf, mengaktifkan kerja otak dan tulang. Ketika seseorang menghirup udara fajar yang dinamakan udara pagi, dia merasakan kenikmatan dan kesegaran tiada taranya di waktu manapun, baik siang atau malam.
Fajar adalah periode waktu yang mendahului matahari terbit. Indikasinya yaitu adanya cahaya matahari yang lemah sementara matahari sendiri masih berada di bawah horizon. Beberapa definisi teknis dari fajar antara lain:
“Fajar astronomi” adalah periode waktu di mana langit tidak gelap total, secara format didefinisikan sebagai waktu di mana matahari berada 18 derajat di bawah horizon di waktu pagi.
“Fajar nautikal” adalah waktu di mana terdapat cukup cahaya matahari untuk membedakan antara horizon dan objek-objek yang berada di horizon, secara formal didefinisikan sebagai waktu di mana matahari berada pada 12 derajat di bawah horizon di pagi hari.
“Fajar sipil” adalah waktu di mana terdapat cukup cahaya matahari untuk membedakan objek-objek dan cukup cahaya matahari agar manusia dapat melakukan aktivitas luar rumah, secara formal didefinisikan sebagai waktu di mana matahari berada pada 6 derajat di bawah horizon di pagi hari. Fajar berbeda  dengan matahari terbit, yaitu waktu di mana sisi matahari mulai terlihat di atas horizon.
Sementara itu beberapa hasil penelitian, menyimpulkan sebaiknya seseorang  membiasakan mandi pagi dengan air dingin. Sebab, sedikitnya  ada 7 manfaat mandi pagi dengan air dingin:
Mandi pagi mampu melancarkan peredaran darah
Menurut hasil penelitian sebuah lembaga riset trombosit di Inggris, jika seseorang sering mandi pagi dengan air dingin, maka peredaran darahnya akan menjadi lebih lancar. Tubuh juga akan terasa lebih segar dan bugar. Hal ini tentu akan sangat berguna sebagai bekal kita untuk menjalani kegiatan sehari-hari.
Mandi dengan air dingin akan meningkatkan sel darah putih
Mandi dengan air dingin akan meningkatkan sel darah putih dalam tubuh. Bila sel darah putih dalam tubuh meningkat, maka daya tahan dan kemampuan tubuh dalam melawan virus pun akan semakin meningkat. Manfaat positifnya tubuh akan menjadi lebih prima dan tidak mudah sakit karena daya tahan tubuh selalu terjaga dengan baik.
Mandi dengan air dingin bisa menurunkan resiko darah tinggi
Mandi air dingin juga  menurunkan resiko timbulnya darah tinggi, varises dan mengerasnya pembuluh darah. Hal ini disebabkan karena mandi air dingin akan melancarkan seluruh sirkulasi darah ke organ-organ tubuh.
Mandi dengan air dingin dapat meningkatkan kesuburan
Mandi pagi dengan air dingin memiliki efek positif bagi kesehatan reproduksi manusia. Manfaatnya yaitu untuk meningkatkan produksi hormon testosteron pada pria dan hormon estrogen pada wanita, yang berpengaruh pada meningkatnya kesuburan dan gairah seksual.
Mandi pagi memperbaiki kesehatan jaringan tubuh
Kebiasaan mandi pagi dengan air dingin setiap hari berdampak positif juga pada kesehatan jaringan tubuh manusia. Dengan kebiasaan ini, jaringan kulit akan semakin membaik, kulit tidak kering dan menjadi lebih kenyal. Mandi dengan air dingin juga mampu mengurangi noda dan lingkaran hitam pada bagian bawah mata. Sehingga, kesegaran wajah akan semakin terpancar.
Sebaliknya bila mandi dengan air hangat, maka kulit lebih mudah keriput dan kurang kenyal. Selain itu, mandi dengan air dingin juga berdampak positif pada jaringan kuku. Kuku pun akan menjadi lebih sehat, kuat dan tidak mudah retak.
Mandi pagi dengan air dingin dapat membuat rambut lebih sehat
Apa sih yang terjadi pada rambut bila dibilas dengan air dingin? Ternyata air dingin bisa menutupi kutikula rambut, sehingga mampu mengurangi kerontokan. Rambut pun akan lebih terlindungi dari kotoran-kotoran yang biasanya menempel pada kulit kepala. Dengan demikian rambut akan menjadi lebih sehat dan kuat.
Mandi air dingin berkhasiat meredakan depresi
Mandi pagi dengan air dingin juga  menjadikan jiwa dan pikiran lebih tenang dan memberikan semangat menjalani aktifitas sehari-hari.   (tb/berbagaisumber)

(Ulasan selengkapnya mengenai terapi mandi dapat dibaca di Tabloid Bekam Edisi 6/Mandi Cara Cepat Redakan Demam)
0 komentar

Mujahid itu Berawal Dari Remaja…


Abdurrahman bin Auf didatangi dua orang remaja dari kaum anshar, yaitu Muaz bin Amr Al-jamuh, 14 tahun dan Muawwiz bin Afra berumur 13 tahun. Kedua duanya bersenjatakan pedang. Tentara Quraisy seolah olah tidak menghiraukan kehadiran dua remaja itu karena menganggap kedua duanya tidak berbahaya. Mereka lebih memilih Abdurrahman bin Auf agar ditawan hidup hidup untuk dijadikan tebusan karena dia terkenal sebagai saudagar yang kaya.
Dalam kondisi kerusuhan pertempuran, Abdurrahman bin Auf berteriak ,” Wahai anak, kamu masih terlalu muda untuk terlibat di peperangan ini, sebaiknya engkau menjauhlah dari tempat ini.”
“Kami mendapat izin daripada ibu dan ayah kami bagi menyertai pasukan Muhammad,” teriak Muaz.
“Saya datang kesini hanya untuk  membunuh Abu Jahal. Tunjukkan dimana dia?” Kata Muawwiz dengan penuh semangat.
Pada mulanya Abdurrahman bin Auf tidak menghiraukan kata kata dua remaja itu, tetapi Muaz dan Muawwiz terus mendesaknya supaya menunjukkan dimana Abu Jahal maka akhirnya Abdurrahman terpaksa menyetujuinya.
“ Paman akan tunjukkan kepada kamu dimana Abu Jahal, boleh tahu apa yang akan kamu lakukan apabila berjumpa dengannya? Tanya Abdurrahman bin Auf pula.
“Ibu saya berpesan jangan pulang ke rumah selagi kepala Abu Jahal tidak diceraikan dari badannya,” jawab Muaz bersungguh sungguh.
“Abu Jahal menghina serta menyakiti Rasulullah, saya ingin membunuhnya,” kata Muawwiz pula.
Abdurrahman bin Auf tersenyum mendengar kata kata dari dua orang remaja yang berani itu. Dia berjanji akan menunjukkan Abu Jahal apabila berjumpa. Tiba tiba seorang tentara quraisy menyerang Abdurrahman bin auf  dari belakang. Muaz dan Muawwiz yang melihat kejadian itu segera bertindak melindunginya. Muaz dengan cepat menebas kaki tentara Quraisy menyebabkan dia tersungkur dan Muawwaiz pula menikamnya hingga mati.  Melihat itu Abdurrahman bin Auf berasa kagum dengan kehidupan dua remaja itu.
“Tunjukkan kepada kami di mana Abu Jahal,” kata Muaz seolah-olah tidak sabar  lagi hendak bertemu dengan ketua pasukan Quraisy itu.
Tiba tiba Abdurrahman bin Auf melihat Abu Jahal sedang berada dibawah sepohon kayu  yang rindang. Dia menunggang kuda sambil berteriak memberi kata kata semangat kepada pasukannya agar terus berjuang.
Itulah lelaki yang kamu cari. Tetapi kamu haruslah berhati hati karena dia juga seorang perwira Quraisy” kata Abdurrahman bin Auf
“terima kasih paman. Saya akan dapatkan dia sekarang,” ujar Muaz sambil berlari ke arah Abu Jahal.
“Saya akan membantunya membunuh lelaki yang memusuhi Allah dan RasulNya itu,” kata Muawwiz juga.
“Berhati hati karena dia dilindungi oleh pasukan Quraisy,” pesan Abdurrahman bin Auf. Dia sendiri tidak dapat membantu karena sedang berhadapan dengan tentara Quraisy yang menyerangnya.
Muaz dan Muawwiz terus berlari ke arah Abu Jahal yang masih berada di atas kudanya , mereka berlari tanpa menghiraukan keselamatan mereka. Ketika itu Abu Jahal  tidak menyadari kedatangan dua remaja tersebut. Muaz tiba lebih dahulu , dia tidak mencapai menebas kaki abu Jahal, maka yang ia tebas adalah kaki kanan kuda yang dinaiki Abu Jahal, seketika kuda tersebut jatuh tersungkur, Abu Jahal pun tersungkur. Dia marah sekali sambil menahan sakitnya akibat jatuh dari kuda, Abu Jahal mencoba bangun tetapi dengan cepat Muaz menebas kaki kanan Abu Jahal hingga putus. Muawwiz yang menyusul memukul pula kepala Abu Jahal hingga dia teramat sakit.
Ikramah anak Abu Jahal yang turut berada di situ segera menolong dan melindungi bapaknya, dia menyerang balik Muaz dan  menebas tangan kiri remaja itu hingga hampir putus, Muaz terjerembab. Muaz berusaha lari dan dibiarkan oleh ikrimah karena dia melihat Muawwiz hendak membunuh bapaknya. Maka terjadi pertarungan seorang dewasa matang dalam pertempuran yaitu Ikramah dengan Muawwiz  yang masih berumur 13 tahun, karena tidak seimbang akhirnya Muawwiz gugur sebagai syahid.
Muaz selepas berhasil menjauhi Ikramah yang mengejarnya, ia terus berlari menuju Rasulullah, tapi pelariannya terganggu karena tangan kirinya yang terkulai karena hampir putus. Muaz akhirnya berhenti lalu mengambil keputusan untuk memutuskan tangannya yang terkulai itu lalu berkata, “ wahai tangan, kamu mengganggu perjalananku untuk bertemu Rasulullah.
Tanpa menghiraukan kesakitannya Muaz terus berlari hingga bertemu Rasulullah, kemudian Muaz memeluk Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, saya dan Muawwiz berhasil membuat Abu Jahal cedera, tetapi dia masih hidup karena kami di serang oleh anaknya bernama Ikramah dan beberapa pasukan Quraisy.” Beritahu Muaz lalu menunjukkan posisi mana Abu Jahal sedang berada.
Nabi Muhammad memanggil Abdullah Ibnu Mas’ud yang berada di situ karena gilirannya mengawal Rasulullah , Beliau lalu menyuruh Ibnu Masud mencari Abu Jahal berada.
“ Wahai Ibnu Masud, anak ini mengatakan dia telah membuat Abu Jahal terluka, pergilah dan lihatlah dia disana,” kata Rasulullah.
Abdullah ibnu Mas’ud segera pergi mencari Abu Jahal, didapatinya pimpinan Quraisy itu terluka parah tetapi masih hidup. Tanpa rasa belas kasihan Abdullah bin Mas’ud menekan leher Abu Jahal sambil berkata,” Wahai musuh Allah dan musuh RasulNya, pada hari ini Allah menghinakanmu.”
“Dengan apa Allah menghina aku? Apakah karena aku mati ditangan engkau? Tanya Abu Jahal yang masih menunjukkan kesombongannya.
Abdullah ibnu Mas’ud mengangkat pedang hendak memenggal kepala Abu Jahal, tetapi Abu Jahal berujar,” sebelum engkau membunuh aku, beritahu dahulu pihak mana yang memenangi pertempuran ini, milik siapakah kemenangan hari ini?”
“Pasukan Quraisy kalah, kemenangan itu milik Allah dan RasulNya,” Jawab Abdullah bin Mas’ud.
“Anda bohong wahai pengembala kambing !” kata Abu Jahal, dia masih menunjukkan angkuhnya walau situasi sedang kritis.
Tanpa ada sela waktu, pedang Abdullah bin Mas’ud menebas kepala Abu Jahal
Berita terbunuhnya Abu Jahal dengan cepat disampaikan kepada pasukan Islam, mereka menjadi semakin membara dan semangat, tetapi dipihak lain berita kematian itu meluluhkan semangat pasukan Quraisy….
Rasul mendengar berita kematian Abu Jahal dari Abdullah bin Mas’ud, beliau mengatakan ,” Wallahi, Laa ilaha illaLLah , Laa ilaha illaLLah, Laa ilaha illaLLah, Allahu Akbar, AlhamduliLLah , Dia yang memenuhi janjiNya dengan menolong hambaNya dan mengalahkan musuhNya.”
Begitulah kematian musuh Allah, secara fisik dan kemegahan saat itu Abu Jahal termasuk manusia yang dihormati kaumnya, punya posis tinggi, tapi Allah menghinakannya, dimulai dengan serangan dua orang remaja dibawah umur, segala kekuatannya tumbang atas izin Allah, sebuah bukti hanyalah dengan kekuatan iman dan jihad lah yang dapat mengalahkan kekuatan kekuatan musrik dan musuh Islam dari dulu hingga sekarang…
Ya Allah kuatkanlah Islam dengan generasi yang Engkau ridhoi, dan munculkanlah kekuatan Islam dari munculnya pemuda pemuda muslim belia seperti Muaz bin Amr Al-jamuh, dan Muawwiz bin Afra…
0 komentar

Antara KPK dan 'Hari Anti Korupsi Sedunia' | kultwit @dedhi_suharto





Dedhi Suharto
@dedhi_suharto
Mantan ketua umum Senat Mahasiswa STAN & aktivis 98 (FKSMJ)

  1. Bismillahirrahmanirrahim, selamat Hari Anti Korupsi Sedunia (#HAKS), tweeps. Semoga bisa menginspirasi kita dalam memberantas korupsi.

  2. Kita syukuri dan apresiasi keberanian KPK menetapkan seorang menteri (Andi M) sbg tersangka. Semoga ini menunjukkan tekad serius.

  3. Namun KPK tidak boleh hanya sibuk dengan dirinya sendiri. KPK mesti melibatkan pihak2 lain dalam mencegah & memberantas korupsi.

  4. KPK memiliki fungsi koordinasi dan supervisi terhadap lembaga2 lain. Mestinya ini dijalankan dengan efektif.

  5. Bila polisi dan kejaksaan sulit u dikoordinasikan dn disupervisi KPK, please lakukan kepada ITJEN2 yg ada di kementerian2/lembaga2.

  6. Ketika pembicara dari KPK hadir dalam acara di ITJEN Kemenkeu, ini sudah saya sampaikan. Diakui bahwa KPK belum efektif supervisi.

  7. Baiklah yg penting KPK ke depan mesti jalankan fungsi koordinasi dan supervisi minimal thd ITJEN2. Dgn demikian trjd gerakan masif.

  8. Bila tidak disupervisi, maka boleh jadi ITJEN2 yang harusnya mengawasi malah jadi part of problem korupsi. Ini tak boleh dibiarkan.

  9. Apakah sulit mengkoordinasikan dan mensupervisi ITJEN2? Gak ada yg sulit. Apalagi skrg sudah terbentuk asosiasi profesi auditor.

  10. Telah terbentuk Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI) bulan Nov 2012 kemarin. Nah manfaatin, KPK, please.

  11. Dg adanya AAIPI, diharapkan para Inspektur Jenderal berani mnyuarakan anti korupsi bila ada pnyimpangan. Krnnya KPK perlu back up.

  12. Back up KPK diperlukan agar tidak terjadi retaliasi oleh menteri thdp inspektur jenderalnya yang vokal menyuarakan anti korupsi.

  13. Bahkan, saya punya "ide gila" KPK perlu intervensi dlm penetapan para IRJEN. Mungkin perlu ada payung hukumnya. DPR bisa bantu?

  14. Kalaupun "ide gila" saya tak terwujud, semoga KPK tetap punya langkah2 konkrit dalam mengkoordinasikan dan mensupervisi ITJEN2.

  15. Yang penting, KPK jangan mimpi bisa memberantas korupsi sendirian. Ajak ITJEN2 dan seluruh kalangan bersama-sama.

  16. Bila tidak, saya yakin Indeks Persepsi Korupsi (IPK) kita hanya akan naik seperti siput: cuma NOL KOMA. Itu tidak cukup, KPK!

  17. Kalo kemarin dari IPK 2.8 naik jadi 3.0, masak skrg cuma 3.2, misalnya? Naik jadi 4.0 dong. Bisa? Khan Singapura saja di atas 9.

  18. Yuk semangat kita tingkatkan IPK kita jadi 4.0. Seluruh rakyat mesti bergerak nih, termasuk ITJEN2nya jangan lupa.

  19. ITJEN2 perlu menelaah prosedur2 layanan yang berbelit2. Sebab hal itu sangat berpengaruh thd Indeks Persepsi Korupsi.

  20. Semoga kita mampu segera raih IPK 4.0. Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.
0 komentar

Pers Rilis KAMMI I Hari Anti Korupsi Sedunia

KAMMI: Tuntaskan Century, Boediono Harus Mundur
JAKARTA – Dewasa ini, deretan kasus korupsi terus menjangkiti masyarakat Indonesia. Hampir semua sektor pemerintahan baik eksekutif, legislatif dan yudikatif dipenuhi kasus korupsi sehingga merugikan keuangan negara dan melukai rasa keadilan masyarakat.
“Kondisi ini sangat mengenaskan, korupsi menjamur bagaikan gurita di Republik ini. Hukum tidak lagi sebagai panglima sebab diperjualbelikan. Siapa yang punya uang, dapat membeli hukum di negeri ini, “ jelas koordinator aksi, Inggar Saputra di gedung KPK, Jakarta, Selasa (4/12)
Menurutnya, korupsi merupakan akar kejahatan yang mengancam dan membahayakan masa depan Indonesia. Akibat korupsi yang lahir dari proses jual beli hukum, kepercayaan masyarakat semakin mendekati titik nadir dan berpotensi melahirkan prahara sosial.
“Jika itu terus terjadi dan dibiarkan, jadilah pidato pejabat negara yang mengaku pro pemberantasan korupsi bagaikan wacana kosong yang ditelan angin. Hukum menjadi tajam kepada masyarakat miskin dan kelas bawah, tapi tumpul dan mandul menghakimi pejabat berdasi dan pengusaha kelas kakap, “ tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PP KAMMI, Muhammad Ilyas menegaskan,  KAMMI sebagai organisasi berbasis mahasiswa Muslim terbesar di Indonesia mendesak KPK secepatnya memberantas korupsi di Indonesia. KPK tidak boleh ragu dan mundur dalam membebaskan Indonesia dari cengkraman koruptor yang semakin merapuhkan sendi perekonomian Indonesia.
“KAMMI mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secepatnya menuntaskan kasus korupsi di Indonesia. Korupsi adalah musuh bersama dan koruptor harus dibumihanguskan dari bumi pertiwi, “ tegasnya.
Ilyas menambahkan, KAMMI juga mendesak aparat penegak hukum menangkap dan mengadili aktor intelektual mega korupsi Century. Salah satunya adalah Wakil Presiden Boediono yang ketika itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia.
“KPK jangan ragu untuk menangkap dan mengadili Boediono. KAMMI juga secara tegas meminta Boediono mundur dari jabatannya sekarang juga, “ tambahnya.
Tidak ketinggalan, Ilyas menuntut Ketua KPK Abraham Samad mundur dari jabatannya, jika sampai tanggal 31 Desember gagal menuntaskan kasus korupsi yang semakin marak di Indonesia.
Kontak Person: Dindin Nurdiansyah 0813 8386 6267; Inggar Saputra 0857 8161 4946
0 komentar

Sejarah STAIN Salatiga


Sejak berdirinya sampai saat ini, STAIN Salatiga telah melewati sejarah yang cukup panjang, dan mengalami beberapa kali perubahan kelembagaan. Pendirian lembaga ini, bermula dari cita-cita masyarakat Islam Salatiga untuk memiliki Perguruan Tinggi Islam. Oleh karena itu didirikanlah Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) “Nahdlatul Ulama” di Salatiga. Lembaga ini menempati gedung milik Yayasan “Pesantren Luhur”, yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 64 Salatiga. Lembaga ini berdiri berkat dukungan dari berbagai pihak, khususnya para ulama dan pengurus Nahdlatul Ulama Jawa Tengah.
dinegerikan bersamaan dengan persiapan berdirinya IAIN Walisongo Jawa Tengah di Semarang. Guna memenuhi persyaratan formal, maka dibentuklah panitia pendiri yang diketuai oleh K.H. Zubair dan sekaligus diangkat sebagai Dekannya.
Dalam waktu yang bersamaan dengan proses pendirian IAIN Walisongo Jawa Tengah di Semarang, Fakultas Tarbiyah Salatiga diusulkan untuk dinegerikan sebagai cabang IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setelah dilakukan peninjauan oleh Tim Peninjau yang dibentuk IAIN Sunan Kalijaga, akhirnya pembinaan dan pengawasan Fakultas Tarbiyah Salatiga diserahkan padanya. Keputusan ini didasarkan pada Surat Menteri Agama c.q. Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Nomor Dd/PTA/3/1364/69 tanggal 13 November 1969.
Ketika IAIN Walisongo Jawa Tengah di Semarang berdiri, Fakultas Tarbiyah Salatiga mendapatkan status negeri, dan menjadi cabang IAIN Walisongo. Penegerian Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo tersebut berdasarkan SK Menteri Agama Nomor 30 Tahun 1970 tanggal 16 April 1970
Bergabung dengan IAIN Walisongo

Meskipun telah berstatus negeri dan menjadi IAIN Walisongo, Fakultas Tarbiyah namun kondisinya tidak berubah dalam waktu singkat, sehingga sejajar dengan Perguruan Tinggi Negeri yang lain. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Sarana dan prasarana yang jauh dari memadai. Utamanya belum tersedia gedung milik sendiri;
b. Tenaga profesional baik edukatif maupun administrasi yang masih kurang; dan
c. Animo mahasiswa yang relatif masih kecil.
Keadaan tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif lama, sehingga kondisi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Di Salatiga, dapat dikatakan kurang layak untuk disebut sebagai perguruan tinggi, terutama dilihat dari sarana dan fasilitas yang dimiliki. Oleh Karena itu pernah berkembang isu untuk menutup lembaga ini.
Mengingat kendala utama bagi pengembangan lembaga tersebut belum tersedianya kampus milik sendiri, maka para pengelola fakultas mencurahkan perhatian dan usahanya untuk menjawab tantangan tersebut. Jalan satu-satunya yang mesti ditempuh adalah membeli areal tanah kampus, sebab mengharapkan wakaf dari masyarakat dan meminta kepada Pemerintah Daerah tidak memungkinkan.
Suatu kebetulan ada seorang warga Muhammadiyah (H. Asrori Arif) yang menaruh perhatian terhadap keberadaan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga. Beliau menawarkan tanah pekarangannya seluas 0,75 ha lengkap dengan bangunannya yang letaknya cukup strategis untuk penyelenggaraan pendidikan.
Berkat perhatian Menteri Agama (H. Alamsyah Ratu Prawiranegara) terhadap perkembangan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga, maka beliau berkenan mengabulkan usulan Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga Nomor 031/A-a/FT-WS/I/1979, tanggal 24 Januari 1979, tentang maksud pembelian tanah tersebut (pada waktu itu Dekan dijabat oleh Drs. Achmadi).
Berdasar pada surat Dirjen Binbaga Islam Nomor E/Dag/BI/2828. tanggal 10 Agustus 1982, maka dibelilah tanah sebagaimana ditawarkan di atas dengan menggunakan DIP Pusat (tahun anggaran 1980/1981 dan 1981/1982). Hal penting yang perlu dicatat adalah bahwa pembelian tanah tersebut tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, terutama Bapak Muhammad Natsir (selaku Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) yang juga telah lama menaruh perhatian terhadap kehidupan umat Islam di Salatiga.
Tercatat mulai tahun 1982 Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga hijrah dari kampus lama ke kampus baru milik sendiri, tepatnya dijalan Caranggito 2 (sekarang berubah menjadi jalan Tentara Pelajar 2). Kampus baru dinilai sebagai jawaban tepat yang bersifat fisik atas tantangan rencana rasionalisasi. Bahkan kampus baru tersebut dirasakan mampu membangkitkan kembali optimisme dan antusiasme seluruh civitas akademikanya.
Sedikit demi sedikit sarana dan prasarana pendidikan bertambah, antara lain gedung kuliah, perpustakaan dan kantor. Pemerintah Daerah pun juga tidak mau ketinggalan untuk memberikan bantuan tambahan tanah kampus seluas 3000 m2 yang waktunya bersamaan dengan pembangunan masjid kampus bantuan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Memang secara administratif masjid tersebut milik PEMDA, tetapi secara fungsional menjadi tanggungjawab Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga.
Seiring dengan semakin bertambahnya fasilitas akademik, bertambah pula tenaga kependidikan khususnya tenaga edukatif dan mahasiswanya. Jika pada masa dekade pertama Fakultas Tarbiyah Salatiga hanya memiliki 7 (tujuh) orang dosen tetap, pada dekade kedua menjadi 30 (tiga puluh) orang. Fenomena yang hampir sama terjadi pula pada perkembangan jumlah mahasiswa. Pada tahun 1987 tercatat 940 orang. Jika dibanding dengan jumlah mahasiswa tahun 1983, maka peningkatannya sudah lebih dari 300%.
Disimak dari sisi akademis, eksistensi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga juga semakin mantap, sebab mulai tahun akademik 1983/1984 sudah diberi kewenangan menyelenggarakan Program Pendidikan Strata Satu (S1) dengan sistem SKS. Sebelumnya Perguruan Tinggi ini hanya berhak menyelenggarakan Program Pendidikan Sarjana Muda. Disamping itu secara yuridis juga semakin kokoh dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1985 tentang Struktur Organisasi IAIN di mana Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga termasuk di dalamnya.
Tahun 1987 tampaknya relevan untuk dipahami sebagai awal pengembangan kinerja bagi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga. Serangkaian peristiwa bersejarah terjadi mengiringi perjalanan waktu ini.
Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 1987 tentang status IAIN/Fakultas merupakan justifikasi yuridis yang amat mengokohkan eksistensi lembaga pendidikan tinggi Islam ini. Pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga sendiri sebenarnya tengah terjadi pula proses penguatan institusional, baik berupa sarana fisik maupun sumber daya tenaga kependidikannya.
Di atas tanah bantuan PEMDA didirikan gedung kuliah, laboratorium bahasa, ruang micro teaching dan sarana komputer. Pada tahun 1991 dibangun pula sebuah gedung auditorium yang amat bermakna bagi proses pendidikan. Perkembangan selanjutnya dibangun sarana kegiatan mahasiswa seperti POSKO MENWA, Sekretariat RACANA, Sekretariat Teater dan kantor Koperasi Mahasiswa yang menyatu dengan gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) yang diresmikan pada tahun 1995.
Di celah perkembangan sarana fisik tersebut ada kenyataan historis yang perlu diberi catatan khusus, yaitu peran Badan Koordinasi Orang Tua dan Alumni (BAKOAMI) yang dibentuk pada tahun 1988. Pada tahun 1992 diaktanotariskan dengan nama Yayasan Kerjasama Orang Tua dan Alumni (YAKOAMI) yang dipimpin oleh Bapak Jumadi, B.A.
Adapun peningkatan sumber daya insani tampak pada upaya serius lembaga ini dalam mendorong tenaga edukatif dan administrasi untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Pada awal tahun 1997 Fakultas Tarbiyah telah memiliki 44 orang dosen tetap. Dari jumlah itu 1 orang telah bergelar Doktor, 22 orang bergelar Magister, dan 10 orang sedang menyelesaikan program S.2 dalam berbagai bidang keilmuan. Di antara tenaga administrasi ada 2 orang yang sedang menyelesaikan studi program S.1.
Dengan menyimak pada proses perkembangan tersebut, maka Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga sebenarnya tampak semakin mapan secara akademik untuk memberdayakan mahasiswa yang berjumlah 1337 orang.
Adapun para personel yang pernah memimpin Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga yang didirikan pada tahun 1970 hingga beralih status menjadi STAIN adalah sebagai berikut:
Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Di Salatiga
Drs. H. Machbub Masduqi
Drs. Cholid Narbuko
Drs. H. Achmadi
Drs. Imam Buwaity
Drs. H.M. Banany
Drs. H.A. Noerhadi Djamal
(1971-1973, dan 1973-1976)
(1976-1979)
(1979-1982, 1985-1988, dan 1988-1992)
(1982-1983)
(1983-1985)
(1992-1995, dan 1995-1997)
Pembantu Dekan
Drs. Khomsun Taruno
Drs. Imam Buwaity
Drs. Achmadi
Drs. H.A. Noerhadi Djamal
Drs. Chudhori, MA.
Drs. H. M. Banany
Drs. H. Anwar Kusnan Riyanto
Drs. M. Zulfa
(1971-1973 dan 1973-1976)
(1971-1973 dan 1973-1976)
(1976-1979)
(1985-1988 dan 1988-1992)
(1985-1988)
(1988-1992)
(1985-1988)
(1996-1997)
Alih Status Menjadi STAIN

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1997, maka secara yuridis mulai tanggal 21 Maret 1997 Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga. Sesuai dengan keputusan itu, STAIN tetap didudukkan sebagai perguruan tinggi di bawah naungan Departemen Agama Republik Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau profesional dalam disiplin ilmu pengetahuan agama Islam. Sebagai salah satu bentuk satuan Pendidikan Tinggi, STAIN Salatiga masih tetap pula memiliki kedudukan dan fungsi yang sama dengan institut maupun universitas negeri lainnya.
Beralihnya status Fakultas Tarbiyah menjadi STAIN Salatiga telah membawa berbagai peningkatan, baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Peningkatan fisik meliputi penambahan tanah dan gedung sekretariat. Pada tahun 1997 STAIN Salatiga telah menambah tanah seluas 12.500 meter persegi yang terletak tidak jauh dari kampus sekarang. Kemudian pada tahun 2001, STAIN Salatiga telah membangun gedung sekretariat berlantai tiga dengan luas bangunan seluruhnya 900 meter persegi, yang dibangun di atas tanah bekas KUA seluas 871 meter persegi.
Sedangkan peningkatan non fisik meliputi peningkatan jumlah dan pendidikan bagi dosen dan pegawai tetap STAIN Salatiga. Hingga tahun 2007, jumlah dosen tetap STAIN Salatiga sebanyak 94 orang. Dari jumlah tersebut 2 orang bergelar profesor, 5 orang bergelar Doktor, 70 orang bergelar Magister, dari 26 orang tersebut sedang studi S-3 sebanyak 10 orang, studi S.2 sebanyak 30 orang (termasuk calon dosen). Sedangkan jumlah pegawai tetap STAIN Salatiga hingga tahun 2007 mencapai 27 orang, 2 orang di antaranya sudah menyelesaikan S-2. jumlah mahasiswa reguler 1991 mhs
Adapun personalia yang pernah menjabat pimpinan STAIN Salatiga adalah sebagai berikut:
Periode 1997-1998 (peralihan).
Ketua
Pembantu Ketua I
Pembantu Ketua II
Pembantu Ketua III
: Drs. H.A. Noerhadi Djamal
: Dr. Muh. Zuhri, MA
: Drs. H. Komari Alwan
: Drs. H.M. Zulfa Machasin
Periode 1998-2002
Ketua
Pembantu Ketua I
Pembantu Ketua II
Pembantu Ketua III
: Prof. Dr. H. Muh. Zuhri, MA
: Drs. H.M. Zulfa Machasin , M.Ag
: Drs. H. Sukari Tamsir, M.Pd
: Drs. Badwan, M.Ag
Periode 2002-2006
Ketua
Pembantu Ketua I
Pembantu Ketua II
Pembantu Ketua III
: Drs. Badwan, M.Ag.
: Drs. Imam Sutomo, M.Ag.
: Drs. Imam Baihaqi
: Drs. H. Nasafi
Periode 2006-2010
Ketua
Pembantu Ketua I
Pembantu Ketua II
Pembantu Ketua III
: Drs. Imam Sutomo, M.Ag.
: Dr. H. Muh Saerozi, M.Ag.
: Drs. Imam Baihaqi, M.Ag.
: Drs. Miftahuddin, M.Ag.
Periode 2010-2014
Ketua
Pembantu Ketua I
Pembantu Ketua II
Pembantu Ketua III
: Dr. Imam Sutomo, M.Ag
: Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd
: Drs. Miftahuddin, M.Ag
: H. Agus Waluyo, M.Ag
1 komentar

Agar “NGAMPUS” tak Sekadar “STATUS”!



“Jangan sekolah apalagi kuliah jika Anda hanya ingin menjadi kaya, tenar, dan hidup mapan”!
Tagline di atas adalah bentuk sindiran terhadap anak-anak bangsa yang bersekolah ataupun mengenyam bangku perkuliahan hanya untuk mendapatkan hidup mapan setelah mereka lulus.
Tak terasa, bangsa ini akan memperingati hari pendidikan nasional. Momentum baik ini sebaiknya sebagai ajang refleksi status kaum intelek yang bernama mahasiswa. Kuliah atau yang biasa disebut “ngampus” bukan lagi masanya untuk mencari jati diri. Mahasiswa bukan lagi orang yang ragu-ragu dalam melangkah. Di masa ini, mahasiswa lebih fokus untuk mengasah life skill mereka sehingga dapat berkontribusi sebaik-baiknya pada masyarakat. Menjadi mahasiswa dalam makna sebenarnya adalah pilihan. Pilihan untuk bermetamorfosa dari dunia SMA menuju dunia kedewasaan dengan pemikirannya yang matang dari segala macam aspek.
Kehidupan kampus sepenuhnya adalah tanggung jawab kita. Bebas menentukan apapun. Tidak ada lagi guru yang mengingatkan ketika belum mengumpulkan tugas. Tidak ada lagi hukuman, berdiri di depan kelas karena tidak memperhatikan pelajaran. Tidak ada lagi pemeriksaan atribut seragam yang kurang lengkap. Namun, menjadi seorang yang bernama “mahasiswa” bukanlah perkara yang mudah. Ada tujuh poin yang harus melekat pada mahasiswa. Ada nilai yang sarat akan karakter mahasiswa yang sesungguhnya, dan yang terpenting agar “ngampus” tak sekadar status!
Mahasiswa idealnya punya visi dan berpandangan visioner. Stephen R Covey (penulis buku motivasi internasional) menyatakan bahwa visi adalah tujuan akhir. Visi membuat hidup semakin bergairah, sebab kita mempunyai target yang jelas untuk kita capai. Mahasiswa yang tak mempunyai visi akan membuat hidupnya berjalan bagaikan air. Hanya mengalir tanpa tujuan dan ambisi yang ingin dicapai. “Let it flow” adalah jurus ampuh ketika mahasiswa tak ingin dibebankan oleh sederet kerja keras dalam meningkatkan kualitas akademik dan segudang amanah dalam berorganisasi. Tidak ingin merasakan sedikit pun ada beban di punggung yang harus di bawa sepanjang perjalanan menuju kesuksesan. Meskipun sukses, namun sukses yang disebabkan oleh kemujuran atau keberuntungan yang bersifat sementara bukanlah petikan buah manis yang dipetik dari pohon perjuangan. Maka dari itu, sebagai seorang mahasiswa yang sesungguhnya, mulailah memiliki visi yang jelas. Buatlah perencanaan hidup agar hidup semakin terarah. Banyak buku yang mengulas mengenai visi. “7 Habits of effective people”, Stephen R Covey dan “I can do it” 9 Cara meraih sukses-nya Stedmen Graham bisa menjadi bahan referensi untuk memaknai kembali pentingnya menancapkan visi bagi mahasiswa ataupun orang lain.
Mahasiswa juga harus memiliki konsep yang jelas. Konsep yang jelas di sini adalah kemampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri dengan baik. Terkadang kita menganggap diri kita lemah dan memiliki banyak kekurangan. Hal yang paling fatal bagi seorang mahasiswa adalah ketika dia belum mengenal dirinya sendiri. Apa kelebihan dan kekurangannya. Padahal banyak potensi dalam diri yang tanpa disadari dapat melejitkan prestasi-prestasi kita. Bagaimana mungkin kita mengasah kemampuan diri kalau kita saja belum mengenal baik diri kita sendiri. Dengan mengetahui kekurangan kita, kita akan berusaha untuk mengubah kesulitan menjadi tantangan. Rintangan menjadi peluang sehingga setiap detik selalu ada karya tercetak dan tak ada waktu yang terbuang sia-sia.
Mahasiswa tak ragu untuk berimajinasi. Imajinasi bukan hanya untuk anak-anak. Mahasiswa pun perlu berimajinasi. Perbedaan antara imajinasi anak-anak dan mahasiswa adalah proses implikasi dan realisasi imajinasi tersebut. Imajinasi itu diperbolehkan asal imajinasi yang produktif. Tak ada larangan untuk terus menyuburkan imajinasi kita. Dengan adanya imajinasi kita mempunyai gambaran atau bayangan bagaimana kita ke depan.  Jangan remehkan dahsyatnya berimajinasi! Berimajinasi tentunya harus didukung oleh kerja keras nyata demi merealisasikan mimpi-mimpi kita.
Mahasiswa harus punya target yang jelas. Banyak orang yang keliru menginterpretasikan antara target dan visi. Visi adalah rencana kita ke depan secara global dan general. Lain halnya dengan target yang sudah kita uraikan menjadi beberapa spesifikasi. Target harus bersifat realistis. Realistis terhadap kemampuan kita. Target pun harus bertahap. Langkah yang besar diawali dari langkah yang kecil.
Mahasiswa pembelajar atau pengumpul nilai? Mahasiswa pembelajar tidak berorientasi pada nilai, nilai hanyalah sebuah bonus yang didapat setelah kerja keras. Mahasiswa pembelajar mengedepankan ilmu dan usaha untuk mendapatkan ilmu dari pengalaman yang berharga. Berbeda dengan pengumpul nilai yang hanya terpaku pada nilai. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai sempurna, namun aplikasi ilmu nihil. Sehingga lulusannya hanya menambah deretan panjang pengangguran intelektual yang menghambat laju perkembangan Indonesia. Mahasiswa pembelajar adalah mahasiswa yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tidak akan pernah merasa puas, menghargai proses kerja keras dan menganggap setiap tempat adalah sekolah pembelajaran. Itulah mahasiswa pembelajar!
Mahasiswa bukan Penghafal! Sistem pendidikan di hampir seluruh universitas negeri ataupun swasta dimana satu kelas memiliki 40-an lebih mahasiswa membuat suasana tak kondusif untuk belajar. Dosen hanya membaca buku literatur di depan kelas, tanpa menghiraukan keadaan kelas yang hiruk-pikuk. Secara tak langsung, menyuruh mahasiswanya untuk menghafal. Hal ini dibuktikan dengan tidak sependapatnya dosen apabila jawaban ujian esai mahasiswanya berbeda dengan yang tertera di buku-buku referensi. Tak segan-segan dosen memberi nilai kecil ketika kita tidak lagi patuh terhadap bacaan di buku-buku. Semoga dosen seperti ini tak ada di kampus kita.
Mahasiswa aktivis atau “pasivis”? Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Waktu kuliah selama 4-5 tahun adalah waktu yang berharga jika dilewatkan begitu saja. Jika kita hanya disibukkan dengan tugas kuliah, hadir kuliah setiap hari rasanya begitu hambar. Banyak keuntungan yang akan kita dapati sebagai seorang aktivis. Mulai dari banyak teman, kenal dengan beberapa jaringan media, mengasah kemampuan berkomunikasi dengan baik, dan memiliki sejuta pengalaman berharga lainnya yang tak dapat dibeli dengan apapun. Pengalaman terlibat di berbagai macam kegiatan kampus akan mengasah ideologi kita, meningkatkan kematangan berfikir, lebih tanggap untuk menangani persoalan. Karena kita tidak disibukkan dengan permasalahan pribadi namun permasalahan organisasi. Akan tampak jelas perbedaan aktivis kampus dan non aktivis ketika terjun langsung ke masyarakat.
Menjadi mahasiswa memang tidak mudah. Kampus notabene adalah sebuah tempat untuk memperluas penanaman nilai dan idealisme, sebuah kampus diharapkan dapat memproduksi generasi “pelurus” bangsa yang berkualitas. Kampus adalah medan dimana kita bebas memilih ideologi, bebas mengeluarkan pendapat, mengasah critical thinking sebagai mahasiswa.  “Ngampus” adalah pilihan. Pilihan apakah kita ingin mewarnai kehidupan kampus dengan segala macam potensi yang membuahkan prestasi, ataupun menjadi mahasiswa yang biasa saja yang memiliki ideologinya tersendiri “study oriented”. Pilihan untuk mendapatkan IP rusak atau memukau. Pilihan untuk mengembangkan diri atau menjatuhkan diri ke lubang “buaya”.  Pilihan untuk sukses pun ada di tangan kita. Kita yang berhak atas masa depan kita.
Memaknai kembali hari pendidikan nasional, tidak hanya berlaku bagi mahasiswa namun juga segenap masyarakat untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Mencetak generasi pemuda yang dapat mengimplementasikan ilmu dan nilai-nilai semasa kuliah adalah tujuan besar dan harapan berbagai pihak. Pasca kampus, mereka dapat mengabdi kepada masyarakat, sekaligus turut serta dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Memajukan bangsa Indonesia di kancah Internasional. Hidup Mahasiswa!

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20602/agar-ngampus-tak-sekadar-status/#ixzz2ESAVGSUt
0 komentar

Gubernur Aher Minta Kerajaan Arab Saudi Bangun Kampus di Jabar

Gubernur Provinsi Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi agar mendirikan kampus Universitas Islam Imam Muhammad Bin Su’ud, di wilayah Jawa Barat.
“Dalam waktu dekat ini, akan segera di bangun (kampus Universitas Islam Imam Muhammad Bin Su’ud) di Jawa Timur, Sulawesi dan Sumatera. Kemudian saya minta, Jawa Barat diperhatikan juga. Dan dia langsung setuju, silahkan lakukan koordinasi dan surat menyurat,” kata Ahmad Heryawan, di Bandung, Jumat (7/12).
Ditemui usai menerima kunjungan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Mustafa Ibrahim Al Mubarak dan Rektor Universitas Islam Imam Muhammad Bin Su’ud Prof Dr Sulaeman Bin Abdullah Abdul Khail di Gedung Negara Pakuan Bandung, Heryawan menuturkan cabang dari Universitas Islam Imam Muhammad Bin Su’ud, yang sudah ada di Indonesia baru satu yakni Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA), di Jakarta.
“Di situ ada beberapa fakultas yang menjadi cabang dari Universitas Islam Imam Muhammad Bin Su’ud,” kata dia.
Ketika ditanyakan dimanakah lokasi kampus Universitas Islam Imam Muhammad Bin Su’ud yang akan dibangun di Jawa Barat, Heryawan menyatakan belum memikirkan hal tersebut.
“Belum lah, mencari dulu karena kalimat iya-nya kan baru sekarang. Mereka juga baru ke sini sekarang dan spontan saya katakan itu,” kata dia.
Namun, lanjut Heryawan, Rektor Universitas Islam Imam Muhammad Bin Su’ud Prof Dr Sulaeman Bin Abdullah Abdul Khail menginginkan agar pembangunan kampusnya di Jabar dibangun di kawasan pegunungan.
Sebelumnya, Duta Besar Saudi Arabia YM Saadatul Ustadz Mustafa Ibrahim Al Mubarak dan Rektor Universitas Islam Imam Muhammad Bin Su’ud, Sulaeman bin Abdullah Abdul Khalil melakukan kunjungan ke rumah dinas Gubernur Jawa Barat di Gedung Pakuan Bandung.
“Kedatangan saya ke sini ialah berkunjung dalam rangka bertemu saudara-saudara” ujar Sulaeman.
Dikatakannya, hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi memang sudah erat dan sering disebut saudara kandung sehingga kerjasama akan terus dilakukan.
“Sehingga pertemuan ini jauh dengan nuansa politik,” katanya.
Sulaeman menuturkan, kerjasama Indonesia dengan Universitas tersebut sudah dilakukan selama 30 tahun dengan membuka cabang Universitas Islam Imam Muhammad Bin Su’ud di Jakarta dengan nama Lembaga Pendidikan Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA).
“Jadi lembaga tersebut sudah melahirkan ribuan lulusan yang berhasil untuk bersama-sama mengembangkan bahasa Arab dan Ilmu Islam dengan para da’i dan ulama untuk memahami Islam secara bersama-sama,” katanya.
Pihaknya juga berniat untuk membuka cabang-cabang lain dari kampusnya tersebut di Indonesia seperti di Jawa Timur, Sulawesi dan Sumatera.
“Tentunya, kami bangga melihat banyak lulusan kampus yang berhasil dan memberikan pengaruh positif. Itu membuat kami bangga,” katanya. (ant/sam/RMOL)
0 komentar

Memilih Pergaulan

Islamedia - Nggak gaul itu aib. Tapi salah bergaul itu musibah.

Semenjak ada bunyi celaan "gak gaul lo...", dan slogan "anak gaul" jadi ngetren, semenjak itu anak remaja tidak ingin ketinggalan dalam pergaulan. Label "anak gaul" tersemat bukan cuma untuk mereka yang punya teman banyak, tapi lebih pada mereka yang eksis nongkrong di mal-mal, cafe, dan tempat keramaian.

Pergaulan itu suatu kemestian. Setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan itu setelah guru Sosiologi berkata bahwa manusia itu makhluk sosial. Manusia membutuhkan manusia lainnya. Manfaat pergaulan tidak perlu dijabarkan lagi. Bergaul itu naluri manusia. Tapi yang perlu diwanti-wanti adalah dengan siapa kita bergaul? Haruskah kita memilih-milih teman dalam pergaulan?

Pentingnya Memilih Teman Bergaul

"Berteman jangan suka milih-milih." Kata-kata itu tepat untuk orang yang sombong yang hanya mau bergaul dengan orang yang ia pikir selevel dengan dia. Tapi sejatinya kata-kata itu tidak sepenuhnya benar. Kita juga harus menyeleksi teman bergaul. Hanya kriterianya yang harus tepat. Jangan gunakan kriteria yang menjerumuskan kita menjadi orang yang sombong dan tidak baik. Tapi gunakan kriteria yang akan membuat kita menjadi anak yang baik.

Sombong kalau kriteria teman kita adalah anak orang kaya saja (udah sombong, matre pula). Sombong kalau kriteria teman kita itu yang ganteng atau cantik saja. Intinya, kalau kita mengambil standar duniawi sebagai teman, maka kita bisa termasuk sombong. Dalam hadits, Rasulullah mendefinisikan sombong sebagai merendahkan manusia. "Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim)

Memang pertemanan itu ada tingkatan-tingkatannya. Ada yang hanya kenalan. Ada yang teman biasa seperti teman kelas, teman les. Ada juga teman yang lumayan dekat yang kita sering berinteraksi dengannya, ini yang disebut teman bergaul. Dan ada juga yang lebih dekat lagi yang kita sebut sebagai sahabat. Dalam berteman, jangan sampai kita merendahkan orang lain. Janganlah kita hanya mau punya teman bergaul dari orang-orang yang kita pilih berlandaskan keduniaan dan menghindari pergaulan dengan orang lain karena kita meremehkan orang tersebut.

Bagaimana kriteria yang menjadikan kita anak yang baik? Pastinya, kriteria yang berdasarkan pada kebaikan. Maksudnya, kita memilih teman bergaul yang kita sering berinteraksi dengan mereka dari kalangan orang-orang yang berakhlak baik, sholeh, rajin belajar, gemar menabung, suka menjahit dan memasak... Ups kebanyakan...

Pergaulan itu bisa menularkan perilaku seseorang kepada temannya. Tak sedikit anak baik-baik yang terjerat narkoba hanya karena salah memilih pergaulan. Seorang anak dari keluarga yang tidak merokok bisa jadi perokok karena bergaul dengan teman-teman perokok. Dan sebagaimana watak buruk itu menular, watak baik pun bisa menyebar melalui pergaulan. Itulah makanya Rasulullah berpesan untuk memperhatikan teman bergaul.

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)

Dalam menjelaskan hadits ini Imam An-Nawawi berkata, “Hadits ini berbicara tentang keutamaan bergaul dengan orang-orang yang soleh, pelaku kebaikan, tata krama, akhlak mulia, wara’, berilmu, dan mempunyai sopan santun. Sebaliknya, hadits ini melarang kita bergaul dengan pelaku kejahatan, pembuat bid‘ah, suka menggunjing, berbuat dosa, dan sikap tidak terpuji lainnya.”

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah)

Imam Al Ghozali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/42)

Kalau di sekolah ada ekstrakurikuler Rohani Islam, inilah kumpulan anak-anak sholeh yang sangat direkomendasikan jadi teman bergaul kita. Banyak sifat baik di komunitas ini yang bisa tertular pada kita.

Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Hati-hatilah kalian dalam memilih teman, sesungguhnya teman adalah bekal di dunia dan akhirat.”

Merengkuh Nikmatnya Ukhuwah

Sejatinya mukmin itu bersaudara. Ukhuwah Islamiyah itu ada di antara umat muslim. Tapi ukhuwah itu bisa menjadi tak terasa ada bila sesama mukmin tidak saling akrab karena Allah swt.

Bersahabat dengan orang yang sholih, akan membuat kita merasakan indahnya ukhuwah Islamiyah. Dengan ukhuwah, kita bisa merasakan lezatnya keimanan. Saat keimanan kita turun, ada yang menasehati dan menyemangati. Saat kita merasa butuh, ada yang memberikan bantuan karena Allah swt. Pertolongan karena Allah terasa tulus karena pertolongan itu didasari niat yang lurus, bukan karena ada maunya.

Sebagai anak muda, ada peluang yang besar untuk mendapatkan naungan di akhirat, di mana saat itu tidak ada naungan selain naungan dari Allah swt. Abu Hurairah r.a. mewartakan bahwa Nabi Saw bersabda, ada 7 kategori orang yang mendapat naungan Allah di hari kiamat. Salah satunya adalah pemuda yang menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah swt. Kategori lainnya adalah orang dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkumpul dan berpisah karena Allah pula.

Selain itu, orang yang merasakan manisnya ukhuwah Islamiyah, akan berdiri di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya. Sebuah hadist dari Umar bin Khattab, diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam at-Tamhid, Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihy wasallam bersabda: "Allah mempunyai hamba-hamba yang bukan nabi & bukan syuhada, tapi para nabi & syuhada tertarik oleh kedudukan mereka di sisi Allah. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, siapa mereka & bagaimana amal mereka? Semoga saja kami bisa mencintai mereka." Rasulullaah saw bersabda, "Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan karunia dari Allah. Mereka tidak memiliki hubungan nasab & tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama. Demi Allah mereka adalah cahaya & mereka kelak akan ada di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika banyak manusia merasa takut.Mereka tidak bersedih ketika banyak manusia bersedih" Kemudian Rasulullaah saw membacakan firman Allah: "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (TQS Yunus :62)

Bagaimana kalau salah bergaul? Allah telah menggambarkan keadaan orang-orang yang salah bergaul dalam Al-Qur'an. Keadaan mereka di neraka saling menyalahkan satu sama lain.

”Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".(QS AlAhzab ayat 66-68)

Jadi, yuk bergaul dengan orang-orang yang tepat.
0 komentar

Sebut Rohis Radikal, KAPMI Desak Cak Imin Minta Maaf


Muhaimin Iskandar (Cak Imin)
Organisasi Rohani Islam atau biasa dikenal ROHIS kembali mendapat stigma negatif. Setelah beberapa waktu lalu salah satu stasiun televisi menyudutkan Rohis sebagai sarang teroris, kini Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar atau akrab disapa Cak Imin memberikan statement yang tidak etis terhadap Rohis. Di sela-sela kegiatan Kongres Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) (2/12/2012) ia mengatakan, “Siswa-siswi SMA kita kini tidak kenal NU, kenalnya Rohis, yang hasilnya radikal dan culun-culun itu. Oleh karena itu mari kita benahi pendidikan, modalnya adalah percaya diri. Kalau tidak percaya diri jangan pernah ngaku jadi anak buah KH. Hasyim Ashari dan Gus Dur yang kokoh dan berani,”.

Jelas apa yang disampaikan Cak Imin tidak pantas keluar dari mulut seorang kader terbaik NU. Kita kenal NU memiliki karakter sopan santun, beradab dalam menyampaikan sesuatu. Stigma radikal yang dialamatkan kepada Rohis oleh Cak Imin sama sekali tak beralasan. Dia lupa beberapa waktu lalu kala Rohis di cap teroris, ribuan masa rohis protes turun ke jalan. Aksi yang murni muncul dari dasar hati mereka yang berkecimpung di ekstrakulikuler Rohis di sekolahnya masing-masing. Mereka menganggap apa yang mereka lakukan di Rohis memberi banyak sekali manfaat dan tidak ada sama sekali yang disebut selama ini sebagai radikalisasi. Belum lagi protes besar-besaran yang dilakukan para aktivis Rohis dan alumni Rohis di jejaring sosial.
“ Kami anak Rohis menyesalkan ucapan dari pak Menteri Muhaimin Iskandar yang menyebut kami sebagai radikal dan generasi culun”, ungkap Muhammad Farhan, Ketua Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI) Jakarta. Ia menambahkan jika indikator Rohis dianggap radikal adalah karena sebagian tidak mengenal NU, mengapa hanya Rohis yang disudutkan?.
Sebagai kader NU terlebih lagi ia menjadi pejabat publik, Cak Imin telah melupakan nilai luhur NU yang menyadari betul bahwa pembinaan akhlak dan moral adalah bagian penting dari proses kemajuan bangsa. Tentunya proses tersebut bukan hanya dilakukan semata-mata oleh NU sebagai aktor tunggal melainkan melibatkan banyak elemen. Itulah yang menjadi dasar pemikiran NU sejak dahulu dibawa oleh KH. Hasyim Asyari. Cak Imin harus banyak belajar kembali tentang bagaimana sejarah NU membangun karakter bangsa. Sebagai organisasi islam terbesar di negeri ini, tentu NU telah memberikan warna terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Oleh sebab itu Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI) mendesak Cak Imin meminta maaf secara terbuka kepada publik khususnya para aktivis Rohis dan juga alumni-alumni Rohis.  “Kami meminta pak Muhaimin meminta maaf dan menarik kembali ucapannya di depan publik,” tegas Farhan. Bahwasannya apa yang mereka rasakan selama di Rohis itu memberikan perubahan besar dalam hidup mereka. Dari yang tidak paham agama sampai menjadi paham, bahkan mereka juga belajar organisasi sejak dini. Hingga mereka dilatih untuk mandiri, berani dan cerdas.
Para pejabat negeri ini sepertinya harus belajar pada mereka di Rohis. Mereka yang berusaha bertahan di tengah gelombang kebobrokan moral. Tak mudah bagi mereka bertahan di Rohis karena godaan dunia remaja itu sangat berat. Ditambah lagi dengan tuduhan-tuduhan dari berbagai pihak yang sama sekali tak beralasan. Mereka tetap bersemangat beraktivitas di Rohis, mengajak teman-teman mereka untuk mengikuti kegiatan yang bermanfaat di Rohis. Dan tak lupa mereka menorehkan prestasi di kelas. Sekali lagi Rohis menjadi kontrol sosial dan moral di sekolah. Jika ini dirusak maka kita akan lebih lama lagi menikmati kondisi kebobrokan moral bangsa ini. – Humas KAPMI-
×
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Media Dakwah Kampus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger