Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Mosaic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mosaic. Tampilkan semua postingan

Wanita Tangguh, Where Are You??

Ilustrasi (kawanimut)
Ilustrasi (kawanimut)
dakwatuna.com - Kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, bingung, dan galau, sangat wajar dialami oleh jiwa-jiwa yang punya rasa. Iya kan?? Terutama kita kaum hawa. Karena banyak yang bilang, ‘rasa’ lebih mendominasi wanita ketimbang ‘pikiran’.  Uppss… Apa iya???!!  Sedikit nggak sepakat siih, karena kebanyakan persepsi kaum Adam yang ku tangkap tentang hal ini, jadi sedikit mendiskriminasikan kaum wanita. Mereka bilang, wanita itu kalau bicara suka nggak pakai logika… Hemm, gitu ya??? (hehe, ya iyalah… secara, bicara bukannya pakai mulut, saudaraku??  :) ). Yaah, mungkin ada benarnya sih…  ‘Rasa’ lebih mendominasi wanita ketimbang ‘pikiran’.  Makanya kebanyakan wanita kalau berbicara sering menggunakan kata-kata “pe-ra-sa-an”. Contohnya, “Perasaan, bukan aku yang salah…”, “perasaan, nggak gitu deh…”.  Biasanya sih akan berbeda kalau laki-laki yang bicara, kata-katanya jadi seperti ini, “Saya pikir, bukan saya yang salah”, “seharusnya, nggak gitu deh”. Ini membuktikan kalau laki-laki lebih senang menggunakan logika ketimbang perasaan.  (Allahualaam, itu hanya kesimpulan pribadi. Silakan berkomentar, tapi cukup dalam hati… :) )
So, menyikapi perihal ‘rasa’ di atas, jangan lupa, bahwa Allah swt juga mengaruniakan pada setiap manusia (baik laki-laki maupun perempuan) akal dan pikiran yang seharusnya bisa membatasi ruang gerak rasa. Agar rasa muncul tak melebihi batas nalar manusia.
Yaa An-Nissa, seharusnya kita bersyukur bahwa Allah swt melebihkan kita pada sisi rasa. Jangan justru melemahkan diri karena hal itu. Menjadikan posisi wanita sebagai makhluk yang patut dikasihani. Menjadikan air mata sebagai senjata pamungkas agar yang lain iba. Mungkin kita tak bisa berlari dari kenyataan, bahwa “Wanita itu perasa”, “Wanita itu sensitif”. Bagiku kata-kata itu tak ada yang salah. Aku sebagai wanita berkata ‘itu fakta!!’.
Tapi aku tetap meyakini, bahwa ketika ‘rasa’ dan ‘logika’ bersinergi dalam diri seorang wanita, itu akan menjadi kekuatan yang luar biasa yang tak bisa diungkapkan oleh kata. Yahh, “Wanita Luar Biasa” atau aku lebih senang menyebutnya “Wanita Tangguh”.
Jangan terlalu berlebihan, kawan… membayangkan ‘Wanita Tangguh’ seperti wanita perkasa. Bagiku, Wanita Tangguh adalah mereka yang memiliki sifat sekeras batu karang. Wanita tangguh memperlihatkan keberaniannya meskipun sebenarnya ia sedang merasa ketakutan.  Wanita tangguh memberikan yang terbaik kepada orang lain agar orang tersebut bahagia meski ia terluka, khususnya orang-orang yang mereka cintai.  Wanita tangguh mengetahui dengan jelas bahwa Penciptanya akan selalu menopang ketika ia lemah. Wanita tangguh memiliki iman bahwa sepanjang perjalanan hidupnya ia akan tumbuh semakin kuat. Wanita tangguh itu, tetap membawa serta kelembutan dalam tiap langkah kehidupannya, tapi ia memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Tidak hanya mampu berfikir, tapi juga mampu bernegosiasi.  Wanita tangguh, tidak menjadikan air matanya sebagai simbol bahwa ia sedang rapuh, tapi ia menjadikan air matanya untuk sekadar mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebanggaan, untuk kemudian mengambil kekuatan setelahnya.  Wanita tangguh mampu menyimpan kebahagiaan dengan caranya sendiri, dan ia juga mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Saat ini, aku merindukan wanita-wanita tangguh itu. Bahkan aku memimpikan bahwa aku adalah bagian dari mereka. Itu harapanku yang ku sampaikan sebagai doa kepada Pemilikku. Aku hanya wanita biasa yang ingin bisa setangguh Aisyah dan setegar Fatimah. Sungguh, kelak aku ingin berkumpul bersama mereka, tidak hanya di dunia tapi juga hingga ke surga.
Allahualambisawab….
0 komentar

Sejarah STAIN Salatiga


Sejak berdirinya sampai saat ini, STAIN Salatiga telah melewati sejarah yang cukup panjang, dan mengalami beberapa kali perubahan kelembagaan. Pendirian lembaga ini, bermula dari cita-cita masyarakat Islam Salatiga untuk memiliki Perguruan Tinggi Islam. Oleh karena itu didirikanlah Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) “Nahdlatul Ulama” di Salatiga. Lembaga ini menempati gedung milik Yayasan “Pesantren Luhur”, yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 64 Salatiga. Lembaga ini berdiri berkat dukungan dari berbagai pihak, khususnya para ulama dan pengurus Nahdlatul Ulama Jawa Tengah.
dinegerikan bersamaan dengan persiapan berdirinya IAIN Walisongo Jawa Tengah di Semarang. Guna memenuhi persyaratan formal, maka dibentuklah panitia pendiri yang diketuai oleh K.H. Zubair dan sekaligus diangkat sebagai Dekannya.
Dalam waktu yang bersamaan dengan proses pendirian IAIN Walisongo Jawa Tengah di Semarang, Fakultas Tarbiyah Salatiga diusulkan untuk dinegerikan sebagai cabang IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setelah dilakukan peninjauan oleh Tim Peninjau yang dibentuk IAIN Sunan Kalijaga, akhirnya pembinaan dan pengawasan Fakultas Tarbiyah Salatiga diserahkan padanya. Keputusan ini didasarkan pada Surat Menteri Agama c.q. Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam Nomor Dd/PTA/3/1364/69 tanggal 13 November 1969.
Ketika IAIN Walisongo Jawa Tengah di Semarang berdiri, Fakultas Tarbiyah Salatiga mendapatkan status negeri, dan menjadi cabang IAIN Walisongo. Penegerian Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo tersebut berdasarkan SK Menteri Agama Nomor 30 Tahun 1970 tanggal 16 April 1970
Bergabung dengan IAIN Walisongo

Meskipun telah berstatus negeri dan menjadi IAIN Walisongo, Fakultas Tarbiyah namun kondisinya tidak berubah dalam waktu singkat, sehingga sejajar dengan Perguruan Tinggi Negeri yang lain. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Sarana dan prasarana yang jauh dari memadai. Utamanya belum tersedia gedung milik sendiri;
b. Tenaga profesional baik edukatif maupun administrasi yang masih kurang; dan
c. Animo mahasiswa yang relatif masih kecil.
Keadaan tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif lama, sehingga kondisi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Di Salatiga, dapat dikatakan kurang layak untuk disebut sebagai perguruan tinggi, terutama dilihat dari sarana dan fasilitas yang dimiliki. Oleh Karena itu pernah berkembang isu untuk menutup lembaga ini.
Mengingat kendala utama bagi pengembangan lembaga tersebut belum tersedianya kampus milik sendiri, maka para pengelola fakultas mencurahkan perhatian dan usahanya untuk menjawab tantangan tersebut. Jalan satu-satunya yang mesti ditempuh adalah membeli areal tanah kampus, sebab mengharapkan wakaf dari masyarakat dan meminta kepada Pemerintah Daerah tidak memungkinkan.
Suatu kebetulan ada seorang warga Muhammadiyah (H. Asrori Arif) yang menaruh perhatian terhadap keberadaan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga. Beliau menawarkan tanah pekarangannya seluas 0,75 ha lengkap dengan bangunannya yang letaknya cukup strategis untuk penyelenggaraan pendidikan.
Berkat perhatian Menteri Agama (H. Alamsyah Ratu Prawiranegara) terhadap perkembangan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga, maka beliau berkenan mengabulkan usulan Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga Nomor 031/A-a/FT-WS/I/1979, tanggal 24 Januari 1979, tentang maksud pembelian tanah tersebut (pada waktu itu Dekan dijabat oleh Drs. Achmadi).
Berdasar pada surat Dirjen Binbaga Islam Nomor E/Dag/BI/2828. tanggal 10 Agustus 1982, maka dibelilah tanah sebagaimana ditawarkan di atas dengan menggunakan DIP Pusat (tahun anggaran 1980/1981 dan 1981/1982). Hal penting yang perlu dicatat adalah bahwa pembelian tanah tersebut tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, terutama Bapak Muhammad Natsir (selaku Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) yang juga telah lama menaruh perhatian terhadap kehidupan umat Islam di Salatiga.
Tercatat mulai tahun 1982 Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga hijrah dari kampus lama ke kampus baru milik sendiri, tepatnya dijalan Caranggito 2 (sekarang berubah menjadi jalan Tentara Pelajar 2). Kampus baru dinilai sebagai jawaban tepat yang bersifat fisik atas tantangan rencana rasionalisasi. Bahkan kampus baru tersebut dirasakan mampu membangkitkan kembali optimisme dan antusiasme seluruh civitas akademikanya.
Sedikit demi sedikit sarana dan prasarana pendidikan bertambah, antara lain gedung kuliah, perpustakaan dan kantor. Pemerintah Daerah pun juga tidak mau ketinggalan untuk memberikan bantuan tambahan tanah kampus seluas 3000 m2 yang waktunya bersamaan dengan pembangunan masjid kampus bantuan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Memang secara administratif masjid tersebut milik PEMDA, tetapi secara fungsional menjadi tanggungjawab Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga.
Seiring dengan semakin bertambahnya fasilitas akademik, bertambah pula tenaga kependidikan khususnya tenaga edukatif dan mahasiswanya. Jika pada masa dekade pertama Fakultas Tarbiyah Salatiga hanya memiliki 7 (tujuh) orang dosen tetap, pada dekade kedua menjadi 30 (tiga puluh) orang. Fenomena yang hampir sama terjadi pula pada perkembangan jumlah mahasiswa. Pada tahun 1987 tercatat 940 orang. Jika dibanding dengan jumlah mahasiswa tahun 1983, maka peningkatannya sudah lebih dari 300%.
Disimak dari sisi akademis, eksistensi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga juga semakin mantap, sebab mulai tahun akademik 1983/1984 sudah diberi kewenangan menyelenggarakan Program Pendidikan Strata Satu (S1) dengan sistem SKS. Sebelumnya Perguruan Tinggi ini hanya berhak menyelenggarakan Program Pendidikan Sarjana Muda. Disamping itu secara yuridis juga semakin kokoh dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1985 tentang Struktur Organisasi IAIN di mana Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga termasuk di dalamnya.
Tahun 1987 tampaknya relevan untuk dipahami sebagai awal pengembangan kinerja bagi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga. Serangkaian peristiwa bersejarah terjadi mengiringi perjalanan waktu ini.
Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 1987 tentang status IAIN/Fakultas merupakan justifikasi yuridis yang amat mengokohkan eksistensi lembaga pendidikan tinggi Islam ini. Pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga sendiri sebenarnya tengah terjadi pula proses penguatan institusional, baik berupa sarana fisik maupun sumber daya tenaga kependidikannya.
Di atas tanah bantuan PEMDA didirikan gedung kuliah, laboratorium bahasa, ruang micro teaching dan sarana komputer. Pada tahun 1991 dibangun pula sebuah gedung auditorium yang amat bermakna bagi proses pendidikan. Perkembangan selanjutnya dibangun sarana kegiatan mahasiswa seperti POSKO MENWA, Sekretariat RACANA, Sekretariat Teater dan kantor Koperasi Mahasiswa yang menyatu dengan gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) yang diresmikan pada tahun 1995.
Di celah perkembangan sarana fisik tersebut ada kenyataan historis yang perlu diberi catatan khusus, yaitu peran Badan Koordinasi Orang Tua dan Alumni (BAKOAMI) yang dibentuk pada tahun 1988. Pada tahun 1992 diaktanotariskan dengan nama Yayasan Kerjasama Orang Tua dan Alumni (YAKOAMI) yang dipimpin oleh Bapak Jumadi, B.A.
Adapun peningkatan sumber daya insani tampak pada upaya serius lembaga ini dalam mendorong tenaga edukatif dan administrasi untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Pada awal tahun 1997 Fakultas Tarbiyah telah memiliki 44 orang dosen tetap. Dari jumlah itu 1 orang telah bergelar Doktor, 22 orang bergelar Magister, dan 10 orang sedang menyelesaikan program S.2 dalam berbagai bidang keilmuan. Di antara tenaga administrasi ada 2 orang yang sedang menyelesaikan studi program S.1.
Dengan menyimak pada proses perkembangan tersebut, maka Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga sebenarnya tampak semakin mapan secara akademik untuk memberdayakan mahasiswa yang berjumlah 1337 orang.
Adapun para personel yang pernah memimpin Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga yang didirikan pada tahun 1970 hingga beralih status menjadi STAIN adalah sebagai berikut:
Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Di Salatiga
Drs. H. Machbub Masduqi
Drs. Cholid Narbuko
Drs. H. Achmadi
Drs. Imam Buwaity
Drs. H.M. Banany
Drs. H.A. Noerhadi Djamal
(1971-1973, dan 1973-1976)
(1976-1979)
(1979-1982, 1985-1988, dan 1988-1992)
(1982-1983)
(1983-1985)
(1992-1995, dan 1995-1997)
Pembantu Dekan
Drs. Khomsun Taruno
Drs. Imam Buwaity
Drs. Achmadi
Drs. H.A. Noerhadi Djamal
Drs. Chudhori, MA.
Drs. H. M. Banany
Drs. H. Anwar Kusnan Riyanto
Drs. M. Zulfa
(1971-1973 dan 1973-1976)
(1971-1973 dan 1973-1976)
(1976-1979)
(1985-1988 dan 1988-1992)
(1985-1988)
(1988-1992)
(1985-1988)
(1996-1997)
Alih Status Menjadi STAIN

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1997, maka secara yuridis mulai tanggal 21 Maret 1997 Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga. Sesuai dengan keputusan itu, STAIN tetap didudukkan sebagai perguruan tinggi di bawah naungan Departemen Agama Republik Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau profesional dalam disiplin ilmu pengetahuan agama Islam. Sebagai salah satu bentuk satuan Pendidikan Tinggi, STAIN Salatiga masih tetap pula memiliki kedudukan dan fungsi yang sama dengan institut maupun universitas negeri lainnya.
Beralihnya status Fakultas Tarbiyah menjadi STAIN Salatiga telah membawa berbagai peningkatan, baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Peningkatan fisik meliputi penambahan tanah dan gedung sekretariat. Pada tahun 1997 STAIN Salatiga telah menambah tanah seluas 12.500 meter persegi yang terletak tidak jauh dari kampus sekarang. Kemudian pada tahun 2001, STAIN Salatiga telah membangun gedung sekretariat berlantai tiga dengan luas bangunan seluruhnya 900 meter persegi, yang dibangun di atas tanah bekas KUA seluas 871 meter persegi.
Sedangkan peningkatan non fisik meliputi peningkatan jumlah dan pendidikan bagi dosen dan pegawai tetap STAIN Salatiga. Hingga tahun 2007, jumlah dosen tetap STAIN Salatiga sebanyak 94 orang. Dari jumlah tersebut 2 orang bergelar profesor, 5 orang bergelar Doktor, 70 orang bergelar Magister, dari 26 orang tersebut sedang studi S-3 sebanyak 10 orang, studi S.2 sebanyak 30 orang (termasuk calon dosen). Sedangkan jumlah pegawai tetap STAIN Salatiga hingga tahun 2007 mencapai 27 orang, 2 orang di antaranya sudah menyelesaikan S-2. jumlah mahasiswa reguler 1991 mhs
Adapun personalia yang pernah menjabat pimpinan STAIN Salatiga adalah sebagai berikut:
Periode 1997-1998 (peralihan).
Ketua
Pembantu Ketua I
Pembantu Ketua II
Pembantu Ketua III
: Drs. H.A. Noerhadi Djamal
: Dr. Muh. Zuhri, MA
: Drs. H. Komari Alwan
: Drs. H.M. Zulfa Machasin
Periode 1998-2002
Ketua
Pembantu Ketua I
Pembantu Ketua II
Pembantu Ketua III
: Prof. Dr. H. Muh. Zuhri, MA
: Drs. H.M. Zulfa Machasin , M.Ag
: Drs. H. Sukari Tamsir, M.Pd
: Drs. Badwan, M.Ag
Periode 2002-2006
Ketua
Pembantu Ketua I
Pembantu Ketua II
Pembantu Ketua III
: Drs. Badwan, M.Ag.
: Drs. Imam Sutomo, M.Ag.
: Drs. Imam Baihaqi
: Drs. H. Nasafi
Periode 2006-2010
Ketua
Pembantu Ketua I
Pembantu Ketua II
Pembantu Ketua III
: Drs. Imam Sutomo, M.Ag.
: Dr. H. Muh Saerozi, M.Ag.
: Drs. Imam Baihaqi, M.Ag.
: Drs. Miftahuddin, M.Ag.
Periode 2010-2014
Ketua
Pembantu Ketua I
Pembantu Ketua II
Pembantu Ketua III
: Dr. Imam Sutomo, M.Ag
: Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd
: Drs. Miftahuddin, M.Ag
: H. Agus Waluyo, M.Ag
1 komentar

Menghitung Harga Nafas Kita | Tafakur

Oleh: Syaefudin*

Bernafas, mungkin sudah dianggap biasa dan tak lagi menarik dibahas oleh sebagian orang. Pasalnya, sejak bangun tidur sampai terlelap, manusia tak lepas dari kegiatan mengambil udara di alam bebas ini. Namun, pernahkah Anda memperhatikan bagaimana nikmat Allah ini sebenarnya bernilai miliaran rupiah? Tak perlu menghitung kegiatan bernafas secara keseluruhan yang melibatkan berbagai organ tubuh, cukup kiranya menjumlah rupiah dari setiap udara yang dihirup.

Sekali bernafas, umumnya manusia memerlukan 0,5 liter udara. Bila perorang bernafas 20 kali setiap menitnya, berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dalam sehari, setiap orang memerlukan 14.400 liter udara.

Lalu, berapa nilai tersebut bila dirupiahkan? Sebagaimana diketahui, udara yang dihirup manusia terdiri dari beragam gas semisal oksigen dan nitrogen. Keduanya, berturut-turut 20% dan 79% mengisi udara yang ada di sekitar manusia. Bila perbandingan oksigen dan nitrogen dalam udara yang manusia hirup sama, maka setiap kali bernafas manusia membutuhkan oksigen sebanyak 100 ml dan 395 ml lainnya berupa nitrogen. Artinya, dalam sehari manusia menghirup 2880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen.

Jika harga oksigen yang dijual saat ini adalah Rp 25.000 per liter dan biaya nitrogen per liternya Rp 9.950 (harga nitrogen $ 2.75 per 2,83 liter), maka setiap harinya manusia menghirup udara yang sekurang-kurangnya setara dengan Rp 176.652.165. Dengan kata lain, bila manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup berarti setiap bulannya harus menyediakan uang sebesar 5,3 Miliar rupiah. Dalam setahun, manusia dapat menghabiskan dana 63,6 Miliar.

Itu hanya jumlah uang yang diperlukan dalam setahun. Bila dihitung seluruh kebutuhan seumur hidup, pastilah nilainya lebih mencengangkan lagi. Sungguh, Allah maha pemurah atas segala karunia-Nya. Tak terkecuali nikmat Allah dari udara yang digunakan manusia sebagai bahan bernafas setiap saatnya.

Udara yang melimpah ruah di alam adalah bukti kasih sayang Allah yang luar biasa. Sekumpulan gas tersebut diberikan Allah kepada manusia dengan cuma-cuma. Tak sepeser pun dipungut dari manusia atas nikmat yang amat penting tersebut. Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah manusia bersyukur kepada Sang Pencipta. Dia-lah Rabb yang mengurus kita di siang dan di malam hari sebagaimana firman Allah,“katakanlah: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?’…”(QS Al Anbiyaa’ 21: 42).

*)Syaefudin. Penulis adalah Asisten Dosen Metabolisme, Departemen Biokimia, FMIPA-Institut Pertanian Bogor.
1 komentar

Ketua DPR RI Temui Presiden Mesir Bahas Gaza dan Pererat Hubungan Kedua Negara

Ketua DPR RI Marzuki Ali dan Presiden Mesir Dr. Mursi
Islamedia - Senin (3/12) Presiden Mesir Muhammad Mursi menerima kunjungan Ketua DPR RI, Marzuki Ali, di istana negara. Marzuki Alie tiba di Kairo pada Ahad petang untuk memulai kunjungannya ke Mesir dan Palestina dalam kapasitas sebagai Ketua DPR-RI merangkap Presiden Persatuan Parlemen Organisasi Kerja Sama Islam (PUIC). 
Pertemuan ini membahas upaya memperkuat hubungan antara Republik Arab Mesir dan Republik Indonesia dan juga membahas persoalan palestina.
Marzuki dalam pertemuan itu didampingi Duta Besar RI untuk Mesir, Nurfaizy Suwandi dan enam anggota DPR, sementara Mursi didampingi Ketua Majelis Syura (MPR) Mesir, Ahmad Fahmi.

Anggota DPR-RI yang mendampingi Marzuki itu adalah Hayono Isman (Demokrat), Surahman Hidayat (PKS), dan empat anggota Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) RI-Palestina, yaitu Al Muzammil Yusuf (ketua), Raihan Iskandar, Sukiman, dan Muradi Darmansyah.
Marzuki menyatakan penghargaannya atas upaya Mesir untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza. Kedua belah pihak sepakat tentang perlunya untuk meringankan penderitaan rakyat Palestina melalui pengangkatan langsung dari segala bentuk blokade di Jalur Gaza dan membuka perlintasan bagi orang-orang dan barang. 
Pertemuan ini juga membahas cara-cara memperkuat hubungan antara Republik Arab Mesir dan Republik Indonesia, terutama untuk memberikan dukungan politik dan dasar hukum bagi pengusaha dan investor dari kedua belah pihak untuk meningkatkan pertukaran perdagangan dan investasi bersama antara kedua negara, di samping untuk meningkatkan hubungan kebudayaan dan pendidikan.

Presiden Mesir Muhammad Mursi merencanakan membawa pengusaha ke Indonesia dalam upaya meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi kedua negara.

"Rencananya tahun depan (2013) Presiden Mursi akan berkunjung ke Indonesia dengan membawa sejumlah pengusaha Mesir untuk menjalin kerja sama dengan mitra mereka di Indonesia," kata Ketua DPR-RI Marzuki Alie kepada Antara  di Kairo usai pertemuan dengan Kepala Negara Mesir di Istana Al Ittihadiyah itu, Senin (3/12/2012) petang waktu setempat.

Menurut Marzuki, tekad Presiden Moursi itu diungkapkan setelah melihat data kerja sama ekonomi dan perdagangan RI-Mesir masih sangat kecil, yaitu hanya sekitar dua miliar dolar AS per tahun.

"Padahal potensi kedua negara dalam kerja sama ekonomi sangat besar dan seharusnya lebih dari itu bila dioptimalkan," kata Marzuki.

Selain bertemu Presiden Mursi, Marzuki dan anggota delegasi juga secara terpisah bertemu dengan Ketua MPR Ahmad Fahmi di gedung parlemen dan Perdana Menteri Hisham Qandil.
Dari Kairo, Marzuki akan bertolak ke Gaza untuk bertemu Perdana Menteri Hamas, Ismail Haniya dan pimpinan parlemen Palestina di wilayah yang masih diblokade Israel.

Misi Kunjungan Marzuki ke Gaza untuk menyampaikan rasa simpati dan solidaritas Indonesia serta dunia Islam terhadap rakyat Jalur Gaza yang dibombardir Israel dalam perang delapan hari pada 14-21 Desember 2012.

Indonesia Akan Buka Kantor Kedutaan di Palestina

Sementara itu Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menyatakan kesiapan menerima kunjungan delegasi lain DPR RI pimpinan Ketua Komisi I, Mahfudz Siddiq, di Ramallah, Tepi Barat, Palestina pada Senin (3/12).

"Barusan sudah ada konfirmasi dari Ramallah bahwa delegasi DPR RI akan diterima Presiden Abbas," kata Ketua Kaukus Parlemen untuk Timur Tengah, Komisi I DPR-RI, Muhammad Najib.

Selain Presiden Abbas, delegasi pimpinan Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Siddiq juga akan diterima Gubernur Jericho dan Wakil Menlu Palestina. Delegasi DPR sebelumnya berkunjung ke Gaza dan bertemu PM Ismail untuk menyampaikan simpati serupa.

Menurut Najib, dalam kunjungan ke Ramallah, delegasi akan menyampaikan bahwa Indonesia akan membuka Kantor Perwakilan di Ramallah yang akan menjadi cikal bakal KBRI. [admpyg]
0 komentar

Bumi Gaza yang ku sayangi

Rakyat Palestina Merayakan Pengakuan Kedaulatan PBB
oleh Ermi Sumiati

Sungguh...
disanalah ku temukan beragam keteladanan
yang tak kan pernah kutepiskan dari ingatan
tentang cintamu kepada Rabb azza wa jalla
tentang pengorbananmu untuk Al-Quds tercinta
tentang ketenanganmu diantara kekejaman Israel yang tak kunjung reda

tentang semangatmu untuk terus berjuang sepanjang masa
tentang kecintaanmu kepada negri tercinta
kau bangun dengan darah dan air mata
setiap jengkal negerimu yang porak- poranda
kau rajut kembali cinta dari jiwa yang terluka
tanpa ratap dan nestapa
luka, lumpuh, dan buta

bukanlah aral untuk elak dari perjuangan
berapapun jumlah jiwa tak kau hirauan
karena keyakinanmu akan surga tak terbantahkan
rizki yang melimpah
dari tanah yang subur dan berkah
adalah gambaran asa dari surga yang kau tunggu


aku ingin sampaikan kepadamu,
betapa perih hati ini merasakan apa yang kamu rasakan,
jika aku boleh mengandai-andai,
kalau saja serangan itu terjadi saat aku ada bersama mu
aku akan tunjukan padamu
betapa ingin aku membantumu dengan apa saja yang bisa aku bantu
tapi kenyataannya aku tidak bersamamu,maafkan aku Gaza ....

Bumi Gaza yang aku sayangi
Kau yang selalu menjaga hati dan jiwa
Dari rasa duka dan nestapa
Kamu bertahan melakukan perlawanan untuk umat islam sedunia
Kamu bertahan melakukan perlawana agar Al-Aqsho tetap kokoh berdiri sampai akhir zaman
Kamu bertahan melakukan perlawanan agar bumi ambiya kembali utuh di tangan umat islam

Bumi Gaza yang aku sayangi
Kaulah kaca benggala
Bagi seluruh muslim di dunia
Kamu tahu,Kekalahanmu kekalahan umat islam sedunia
Kau sadarkan kami bahwa perjuangan abadi ada di sana
Perjuangan sesungguhnya

Untaian do’a demi do’a kami panjatkan untukmu
Dengan deraian air mata yang mengalir begitu deras untukmu
Semoga do’a-do’a kami menjadi bagian yang menyertai perjuanganmu
Allah,turunkanlah karomah-Mu di bumi gaza yang kusayangi
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Media Dakwah Kampus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger