Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Wanita Tangguh, Where Are You??

Ilustrasi (kawanimut)
Ilustrasi (kawanimut)
dakwatuna.com - Kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, bingung, dan galau, sangat wajar dialami oleh jiwa-jiwa yang punya rasa. Iya kan?? Terutama kita kaum hawa. Karena banyak yang bilang, ‘rasa’ lebih mendominasi wanita ketimbang ‘pikiran’.  Uppss… Apa iya???!!  Sedikit nggak sepakat siih, karena kebanyakan persepsi kaum Adam yang ku tangkap tentang hal ini, jadi sedikit mendiskriminasikan kaum wanita. Mereka bilang, wanita itu kalau bicara suka nggak pakai logika… Hemm, gitu ya??? (hehe, ya iyalah… secara, bicara bukannya pakai mulut, saudaraku??  :) ). Yaah, mungkin ada benarnya sih…  ‘Rasa’ lebih mendominasi wanita ketimbang ‘pikiran’.  Makanya kebanyakan wanita kalau berbicara sering menggunakan kata-kata “pe-ra-sa-an”. Contohnya, “Perasaan, bukan aku yang salah…”, “perasaan, nggak gitu deh…”.  Biasanya sih akan berbeda kalau laki-laki yang bicara, kata-katanya jadi seperti ini, “Saya pikir, bukan saya yang salah”, “seharusnya, nggak gitu deh”. Ini membuktikan kalau laki-laki lebih senang menggunakan logika ketimbang perasaan.  (Allahualaam, itu hanya kesimpulan pribadi. Silakan berkomentar, tapi cukup dalam hati… :) )
So, menyikapi perihal ‘rasa’ di atas, jangan lupa, bahwa Allah swt juga mengaruniakan pada setiap manusia (baik laki-laki maupun perempuan) akal dan pikiran yang seharusnya bisa membatasi ruang gerak rasa. Agar rasa muncul tak melebihi batas nalar manusia.
Yaa An-Nissa, seharusnya kita bersyukur bahwa Allah swt melebihkan kita pada sisi rasa. Jangan justru melemahkan diri karena hal itu. Menjadikan posisi wanita sebagai makhluk yang patut dikasihani. Menjadikan air mata sebagai senjata pamungkas agar yang lain iba. Mungkin kita tak bisa berlari dari kenyataan, bahwa “Wanita itu perasa”, “Wanita itu sensitif”. Bagiku kata-kata itu tak ada yang salah. Aku sebagai wanita berkata ‘itu fakta!!’.
Tapi aku tetap meyakini, bahwa ketika ‘rasa’ dan ‘logika’ bersinergi dalam diri seorang wanita, itu akan menjadi kekuatan yang luar biasa yang tak bisa diungkapkan oleh kata. Yahh, “Wanita Luar Biasa” atau aku lebih senang menyebutnya “Wanita Tangguh”.
Jangan terlalu berlebihan, kawan… membayangkan ‘Wanita Tangguh’ seperti wanita perkasa. Bagiku, Wanita Tangguh adalah mereka yang memiliki sifat sekeras batu karang. Wanita tangguh memperlihatkan keberaniannya meskipun sebenarnya ia sedang merasa ketakutan.  Wanita tangguh memberikan yang terbaik kepada orang lain agar orang tersebut bahagia meski ia terluka, khususnya orang-orang yang mereka cintai.  Wanita tangguh mengetahui dengan jelas bahwa Penciptanya akan selalu menopang ketika ia lemah. Wanita tangguh memiliki iman bahwa sepanjang perjalanan hidupnya ia akan tumbuh semakin kuat. Wanita tangguh itu, tetap membawa serta kelembutan dalam tiap langkah kehidupannya, tapi ia memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Tidak hanya mampu berfikir, tapi juga mampu bernegosiasi.  Wanita tangguh, tidak menjadikan air matanya sebagai simbol bahwa ia sedang rapuh, tapi ia menjadikan air matanya untuk sekadar mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebanggaan, untuk kemudian mengambil kekuatan setelahnya.  Wanita tangguh mampu menyimpan kebahagiaan dengan caranya sendiri, dan ia juga mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Saat ini, aku merindukan wanita-wanita tangguh itu. Bahkan aku memimpikan bahwa aku adalah bagian dari mereka. Itu harapanku yang ku sampaikan sebagai doa kepada Pemilikku. Aku hanya wanita biasa yang ingin bisa setangguh Aisyah dan setegar Fatimah. Sungguh, kelak aku ingin berkumpul bersama mereka, tidak hanya di dunia tapi juga hingga ke surga.
Allahualambisawab….
0 komentar

Dy, Aku Bersama Dakwah Kampus

Ilustrasi (hudzaifah.org)
September 2010
Ilustrasi (hudzaifah.org)
dakwatuna.com - Dy, aku diajak ikut organisasi tadi. Entah, mungkin karena jilbabku agak berkibar- kibar dan rok ku serasa mau terbang saat angin kencang. Haah, si kakak manis banget lho. Apalagi si abang yang sempat kulihat sekilas setelah menyerahkan lembar yang aku gak tau apa isinya sama si kakak, cakep banget. Huaaaaa…
Aku ikut gak ya? Membayangkan kembali kakak tadi yang menemuiku. Namanya K’Nani yang satu jurusan denganku. Sebagai mahasiswa baru aku patutnya bersyukur karena ada yang perhatian samaku. Tapi jilbab dan pakaian kakak itu?? Huaaaaaa, aku mana sanggup. Jilbab yang berkibar- kibar dan rok kembang ini begitu kusayangi. Dy, help me!

Penghujung September 2010
“Shalat apa yang tasyahud akhirnya tiga kali?”
Semua peserta bingung mendengar pertanyaan kuis dari abang instruktur. Dy, aku ikut kegiatan yang ditawarin kakak kemarin. Syukur- syukur cocok, kalau gak ya cabut langsung. Hehe.
Huh, dasar. Unpredictable answer! Shalat Maghrib bagi makmum yang masbuk shalat berjamaah. Eh, tau gak Dy, aku tadi dapat doorprize lho. Pin yang gak bisa didapat semua orang. Simbolnya segitiga gitu, berkilat lagi.

November 2010
Dy, aku udah ikut mentoring beberapa kali. Tapi beberapa kali juga aku gak ikut karena kebentur sama jadwal kuliah. Tapi aku sedih karena teman- teman sekelas gak ada yang mau diajak. Jadilah aku sibuk sendiri.

Pertengahan Februari 2011
Aku jadi panitia, Dy! Ya, panitia untuk acara seperti yang ku ikuti kemarin. Aku di bidang dana. Ahh, gak tau apa yang mau dikerjakan. Tau, pas rapat kami lucu banget. Masak pake penutup gitu, gimana mau kenal teman- teman satu bidang. Ternyata bukan cuma aku yang heran, Lili juga yang dulu teman dekatku ketika kegiatan. Perkenalan nama, jurusan, dan bidang masing- masing. Nama dan nomor HP semua panitia udah ada di SK. Wah, hebat juga organisasi ini. Lalu dari seberang atau kelompok ikhwat eh ikhwan memberikan pemaparan tentang job description setiap bidang. Sepertinya itu suara abang yang kulihat sekilas itu. Haha, bayangkan dy. Suaranya aja masih terngiang-ngiang di telingaku. Astaghfirullah… Tobat, tobat.

Penghujung Maret 2011
Aku sakit, Dy. Badan dan pikiran ini rasanya pegal- pegal. (Eh, emang pikiran bisa pegal juga ya?)
Terlalu menikmati kesibukan di organisasi baruku yang lebih dikenal dengan dakwah kampus membuatku sedikit lupa akan hak- hak tubuh yang seharusnya kupenuhi. Tapi aku senang banget Dy, inbox HP dan wall FB ku penuh dengan kata- kata yang intinya adalah doa agar aku cepat sembuh. Bukan, bukan dari teman- teman sekelas. Tapi dari teman- teman di dakwah kampus. Ahh, indah benar ukhuwah ini…

Juli 2011
Liburan semester, Dy. Dan ternyata aku udah hampir 3 bulan gak ikut mentoring dan absen dari kegiatan- kegiatan dakwah kampus. Ada yang mengusik pikiranku belakangan ini. Sejak sembuh dari penyakit itu aku mulai sedikit mengurangi kegiatan di dakwah kampus. Namun tentu saja bukan karena kondisi sakit yang kuderita. Tapi ada hal lain yang membuatku merasa tidak nyaman. Yah, rasanya tidak perlu disebutkan di sini. Yang pasti jika aku terus berada di sana, masalah akan semakin besar dan bakal ada niat yang tak lagi bersih. Dengan berat, aku memutuskan untuk istirahat. Ya, bukan berhenti. Karena suatu saat nanti ketika aku sudah bisa menyelesaikan ini maka aku akan kembali bergabung. Bantu aku ya Rabb, bismillah…

November 2011
Aku merasa sangat bersalah kepada kakak mentoringku yang tiap Jum’at menghubungi. Aku dengan berbagai alasan menyatakan gak bisa ikut mentoring. Haah, aku makin jauh dari masjid, Dy. Padahal dulu aku sangat rajin ke sana, walau hanya menunggu jadwal kelas setengah jam. Aku rasanya malu kepada teman- teman dan kakak- kakak yang pastinya banyak berkumpul di masjid. Tapi tenang, Dy aku gak akan meninggalkan shalat wajibku, amalan sunnahku, dan jilbab yang udah lumayan gak besar akan tetap kujaga insya Allah.

Maret 2012
Dy, aku menangis tadi. Kenapa aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini? Kenapa masalah sepele ini menjadi sangat rumit? Ahh, berbagai buku tentang manajemen hati sudah kubaca namun kenapa juga tidak bisa menuntaskan masalah ini? Dy, aku tidak ingin ini berlarut. Dengan malu- malu, kupenuhi ajakan K’Nani untuk ikut training lanjutan dari kegiatan yang kuikuti 2 tahun yang lalu. Alhamdulillah lulus seleksi. Dy, semoga niatku tetap terjaga.

Penghujung Mei 2012
Hei, aku menjadi pengurus dakwah kampus, Dy! Gak salah ni? Menjadi sekretaris departemen? Hahh? Departemen apa ini? Ya Rabb, aku gak menginginkan ini. Aku cukup jadi prajurit yang selalu siap untuk diperintah. Mau kubawa ke mana dakwah kampus nantinya?
Dy, aku protes tadi siang ke sana kemari. Kenapa harus aku? Kakak mentoringku hanya bilang bahwa aku pasti bisa. Lalu K’Nani hanya tersenyum. Haaaaaaaahh, aku masih ingin diperhatikan bukan memperhatikan!
Lama aku tadi termenung Dy, sempat terpikir untuk mundur. Namun aku agak berpikir dewasa, siapa yang nanti akan menjalankan ini? Maka aku berdoa kepada Allah agar diberikan pundak yang kuat untuk memikul amanah ini. Pun jika keberadaanku membuat dakwah ini jadi lebih buruk, kumohon agar aku tidak ditempatkan di sini. Dan akhirnya aku dengan ikhlas mencoba menjalankan amanah ini dengan semampuku.

September 2012
Dakwah itu merangkul, bukan memukul.
Dakwah ini mengajak, bukan mengejek.
Dakwah itu cinta.
Ahh, indah sekali kata- kata itu, Dy. Tapi kenyataan? Aku mendapati berbagai pukulan, dan menerima berbagai ejekan. Aku bahkan nyaris tidak merasakan cinta di sini. Apakah memang dakwah sudah berubah? Aku melihat semua sudah pada sibuk Dy, dan tidak ada lagi waktu bagi kami untuk sedikit bercengkerama menanyakan kabar keluarga atau kabar ibadah. Semua bahasan hanya tuntutan, ini sudah diantar? Itu sudah diundang? Proposal ini jebol? Syura’ ini di mana? Haaah… Aku rindu masa- masa dua tahun yang lalu.
Dy, apakah hadirku yang membuat keadaan berantakan begini? Dan haruskah aku mundur??

Awal November 2012
“Maju atau tergantikan”. Kata itu yang menjadi taujih Lili di daftar hadir syura’ tadi.
Aku harus memperbaiki diri, benar kan Dy?
0 komentar

Optimalisasi Peran Ibu

Ilustrasi (inet)

oleh:  Sri Kusnaeni, S. TP. ME.
Bismillahirrahmaanirrahim
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Tanggal 22 Desember, hari yang bagi bangsa Indonesia diperingati sebagai hari Ibu. Masyarakat memperingatinya dengan berbagai macam acara, yang intinya ingin memberikan kebahagiaan dan memuliakan seorang ibu. Meski, tentu saja, kewajiban membahagiakan dan memuliakan ibu bukan hanya dilakukan satu hari saja pada hari tersebut, tetapi sepanjang masa, sepanjang ruh masih ada di dalam jasad ini. Kewajiban yang dengannya Allah menjanjikan surga. Namun demikian patut kita syukuri, bahwa di hari tersebut paling tidak kita diingatkan kembali, akan posisi penting dan peran besar yang telah diperankan oleh sosok “Ibu”. Sehingga rutinitas di berbagai macam tugas yang sering membuat lupa tentang “Ibu”, disegarkan kembali.
Peran dan posisi seorang ibu, adalah peran yang sangat strategis, peran yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun, dalam membangun umat dan peradaban. Sebuah syair yang mencoba merangkum dan mewakili makna tersebut di antaranya “Al ummu madrasatun” Ibu adalah sekolah. Sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas, dengan segala macam sistem dan SDM yang mendukungnya, akan berhasil mencetak para pemimpin yang handal dan tangguh. Demikian juga dengan sosok Ibu. Dari hati, jiwa, perasaan, pikiran dan tangannya yang penuh ketulusan dan kasih sayang, berhasil mencetak manusia-manusia pilihan yang menjadi pemimpin di segala medan kehidupan. Tengoklah kembali perjalanan sejarah para pendahulu kita, generasi terbaik, yang harus kita jadikan tauladan. Beberapa peran yang telah secara optimal dimainkan oleh para ibu berikut ini, semoga menginspirasi kita untuk terus berikhtiar menjadi Ibu dengan segala peran pentingnya.
  1. Mempersiapkan anak menjadi pemimpin, seperti telah dilakukan oleh Aminah, ibunda Rasulullah saw. Meski usianya tidak panjang, hanya sampai usia 6 tahun Rasulullah dididik oleh beliau, tapi Aminah telah melakukan banyak hal, yang menjadi bekal penting bagi jiwa kepemimpinan Rasulullah saw di masa mendatang. Peran yang dimaksud antara lain, beliau telah memilihkan sekolah terbaik bagi anaknya, Rasulullah saw, agar memiliki kemampuan bahasa yang hebat, dengan cara menyekolahkannya di “Sekolah Halimatus sa’diyah”. Masyarakat pedalaman dengan suasana asri, memungkinkan Rasulullah kecil untuk belajar bahasa yang fasih dan santun. Di sini juga, Rasul saw belajar dan menempa diri dengan sifat-sifat kepemimpinan, melalui aktivitas menggembalakan kambing, karena keluarga Halimah memiliki banyak ternak kambing. Dari sisi jasad, suasana yang masih sejuk pun turut mendukung kesehatan Rasulullah saw menjadi prima. Demikianlah, hal ini semua, karena kepiawaian Aminah ibunda Rasulullah saw dalam mengambil keputusan dan memilihkan “sekolah” terbaik bagi anaknya.
  2. Memompa semangat anak untuk pergi berjuang, seperti telah diperankan oleh “Khansa”, ibunda para mujahid, yang syahid di perang Qadisiyah. Sejarah telah mencatat, Khansa telah membakar semangat ke lima (sebagian menulis ke empat) anaknya untuk meraih syahid. “Wahai anak-anakku, Allah telah menyiapkan pahala yang besar bagi mereka yang berjihad di jalanNYA melawan kaum kuffar, ketahuilah, negeri akhirat jauh lebih baik dan lebih kekal dari dunia fana ini” Dan benar saja, setelah di motivasi dan tentunya sejak kecil telah dididik dengan kasih sayang, semua anak-anaknya pergi ke medan jihad dan semuanya menjadi syuhada. Yang lebih menakjubkan adalah kalimat yang kemudian diucapkan oleh ibunda khansa setelah mendapat kabar kesyahidan anak-anaknya. “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memuliakan aku dengan menjadikan anak-anakku sebagai syuhada.
  3. Menghidupkan ekonomi keluarga, sehingga keberkahan dan kebahagiaan melingkupi seluruh keluarga, seperti telah diperankan oleh Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah saw. Dengan semangat dan niat ta’awun (saling membantu) dan mendukung perjuangannya suaminya (Rasulullah saw), Khadijah telah berhasil membangun perekonomian yang berkah melalui perdagangan, dengan tetap optimal mendidik anak-anaknya sehingga tumbuh menjadi pribadi yang kokoh, seperti Fatimatuzzahra, putri kesayangan Rasulullah saw, sekaligus istri Ali bin Abi Thalib, yang senantiasa sabar mendampingi Ali RA, dalam segala keterbatasan ekonominya. Khadijah pun, dalam segala kesibukan aktivitasnya berdagang dan mendidik anaknya, mampu menjalankan peran sebagai istri yang selalu menyejukkan hati suami. Pilihan yang cerdas, meraih keberkahan ekonomi keluarga, melalui perdagangan, yang lebih memungkinkan untuk bisa optimal mendidik keluarganya.
  4. Mendidik masyarakatnya, menjadi masyarakat yang cerdas dan berwawasan luas, seperti telah diperankan oleh Aisyah RA, istri Rasulullah saw, sepeninggal Khadijah binti Khuwailid. Allah karuniakan Aisyah RA akal pikiran yang sangat cerdas, beliau mampu menghafal hadits dalam jumlah ribuan. Beliau juga yang menjadi rujukan dan tempat bertanya segala hal para sahabat dan shahabiah, sepeninggal Rasulullah saw. Aisyah telah memberikan contoh bagi kaum ibu, dan bagi kita semua, untuk terus meningkatkan kapasitas diri menjadi mukmin yang berilmu, di mana Allah telah mengangkat tinggi derajat mukmin yang berilmu pengetahuan (yarfa’illahu ladzina aamanu minkum, walladziina uutul ilma darojat, QS al Mujadilah 11).
  5. Amar ma’ruf nahi munkar, berani mengingatkan, meski terhadap pemimpin. Hal ini seperti pernah dilakukan oleh Khaulah binti tsa’labah, ketika suatu kali memberikan nasihat kepada Umar bin Khattab, yang saat itu menjadi Khalifah. Saat para sahabatnya ingin menghentikan nasihat Khaulah, Umar menjawab. “Biarkan Khaulah melanjutkan bicara, dialah seorang perempuan yang telah didengar aduannya oleh Allah Swt (surat mujadilah), maka seorang Umar tentu lebih wajib untuk mendengar nasihat/perkataannya. Andaikan Khaulah tidak berhenti bicara sampai pagi, maka aku akan tetap mendengarkannya, sampai khaulah yang menghentikannya, kecuali jika datang panggilan shalat, maka aku akan menunaikan shalat dahulu, kemudian aku akan kembali mendengarkan perkataan Haulah”. Demikianlah, Khaulah sebagai orang ibu bagi anak-anaknya, sekaligus Khaulah mampu memerankan fungsi sebagai anggota masyarakat yang berani mengingatkan “pemimpin”.
Demikianlah, sejarah telah mengajarkan kita untuk mengambil peran. Tantangan untuk kita semua, untuk kaum ibu, agar bisa meraih kemuliaan di sisi Allah dengan peran-peran pentingnya. SELAMAT HARI IBU. SEMOGA KITA LAYAK MENDAPAT SYURGA. Wallahu a’lam bishawwab.
0 komentar

Mujahid itu Berawal Dari Remaja…


Abdurrahman bin Auf didatangi dua orang remaja dari kaum anshar, yaitu Muaz bin Amr Al-jamuh, 14 tahun dan Muawwiz bin Afra berumur 13 tahun. Kedua duanya bersenjatakan pedang. Tentara Quraisy seolah olah tidak menghiraukan kehadiran dua remaja itu karena menganggap kedua duanya tidak berbahaya. Mereka lebih memilih Abdurrahman bin Auf agar ditawan hidup hidup untuk dijadikan tebusan karena dia terkenal sebagai saudagar yang kaya.
Dalam kondisi kerusuhan pertempuran, Abdurrahman bin Auf berteriak ,” Wahai anak, kamu masih terlalu muda untuk terlibat di peperangan ini, sebaiknya engkau menjauhlah dari tempat ini.”
“Kami mendapat izin daripada ibu dan ayah kami bagi menyertai pasukan Muhammad,” teriak Muaz.
“Saya datang kesini hanya untuk  membunuh Abu Jahal. Tunjukkan dimana dia?” Kata Muawwiz dengan penuh semangat.
Pada mulanya Abdurrahman bin Auf tidak menghiraukan kata kata dua remaja itu, tetapi Muaz dan Muawwiz terus mendesaknya supaya menunjukkan dimana Abu Jahal maka akhirnya Abdurrahman terpaksa menyetujuinya.
“ Paman akan tunjukkan kepada kamu dimana Abu Jahal, boleh tahu apa yang akan kamu lakukan apabila berjumpa dengannya? Tanya Abdurrahman bin Auf pula.
“Ibu saya berpesan jangan pulang ke rumah selagi kepala Abu Jahal tidak diceraikan dari badannya,” jawab Muaz bersungguh sungguh.
“Abu Jahal menghina serta menyakiti Rasulullah, saya ingin membunuhnya,” kata Muawwiz pula.
Abdurrahman bin Auf tersenyum mendengar kata kata dari dua orang remaja yang berani itu. Dia berjanji akan menunjukkan Abu Jahal apabila berjumpa. Tiba tiba seorang tentara quraisy menyerang Abdurrahman bin auf  dari belakang. Muaz dan Muawwiz yang melihat kejadian itu segera bertindak melindunginya. Muaz dengan cepat menebas kaki tentara Quraisy menyebabkan dia tersungkur dan Muawwaiz pula menikamnya hingga mati.  Melihat itu Abdurrahman bin Auf berasa kagum dengan kehidupan dua remaja itu.
“Tunjukkan kepada kami di mana Abu Jahal,” kata Muaz seolah-olah tidak sabar  lagi hendak bertemu dengan ketua pasukan Quraisy itu.
Tiba tiba Abdurrahman bin Auf melihat Abu Jahal sedang berada dibawah sepohon kayu  yang rindang. Dia menunggang kuda sambil berteriak memberi kata kata semangat kepada pasukannya agar terus berjuang.
Itulah lelaki yang kamu cari. Tetapi kamu haruslah berhati hati karena dia juga seorang perwira Quraisy” kata Abdurrahman bin Auf
“terima kasih paman. Saya akan dapatkan dia sekarang,” ujar Muaz sambil berlari ke arah Abu Jahal.
“Saya akan membantunya membunuh lelaki yang memusuhi Allah dan RasulNya itu,” kata Muawwiz juga.
“Berhati hati karena dia dilindungi oleh pasukan Quraisy,” pesan Abdurrahman bin Auf. Dia sendiri tidak dapat membantu karena sedang berhadapan dengan tentara Quraisy yang menyerangnya.
Muaz dan Muawwiz terus berlari ke arah Abu Jahal yang masih berada di atas kudanya , mereka berlari tanpa menghiraukan keselamatan mereka. Ketika itu Abu Jahal  tidak menyadari kedatangan dua remaja tersebut. Muaz tiba lebih dahulu , dia tidak mencapai menebas kaki abu Jahal, maka yang ia tebas adalah kaki kanan kuda yang dinaiki Abu Jahal, seketika kuda tersebut jatuh tersungkur, Abu Jahal pun tersungkur. Dia marah sekali sambil menahan sakitnya akibat jatuh dari kuda, Abu Jahal mencoba bangun tetapi dengan cepat Muaz menebas kaki kanan Abu Jahal hingga putus. Muawwiz yang menyusul memukul pula kepala Abu Jahal hingga dia teramat sakit.
Ikramah anak Abu Jahal yang turut berada di situ segera menolong dan melindungi bapaknya, dia menyerang balik Muaz dan  menebas tangan kiri remaja itu hingga hampir putus, Muaz terjerembab. Muaz berusaha lari dan dibiarkan oleh ikrimah karena dia melihat Muawwiz hendak membunuh bapaknya. Maka terjadi pertarungan seorang dewasa matang dalam pertempuran yaitu Ikramah dengan Muawwiz  yang masih berumur 13 tahun, karena tidak seimbang akhirnya Muawwiz gugur sebagai syahid.
Muaz selepas berhasil menjauhi Ikramah yang mengejarnya, ia terus berlari menuju Rasulullah, tapi pelariannya terganggu karena tangan kirinya yang terkulai karena hampir putus. Muaz akhirnya berhenti lalu mengambil keputusan untuk memutuskan tangannya yang terkulai itu lalu berkata, “ wahai tangan, kamu mengganggu perjalananku untuk bertemu Rasulullah.
Tanpa menghiraukan kesakitannya Muaz terus berlari hingga bertemu Rasulullah, kemudian Muaz memeluk Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, saya dan Muawwiz berhasil membuat Abu Jahal cedera, tetapi dia masih hidup karena kami di serang oleh anaknya bernama Ikramah dan beberapa pasukan Quraisy.” Beritahu Muaz lalu menunjukkan posisi mana Abu Jahal sedang berada.
Nabi Muhammad memanggil Abdullah Ibnu Mas’ud yang berada di situ karena gilirannya mengawal Rasulullah , Beliau lalu menyuruh Ibnu Masud mencari Abu Jahal berada.
“ Wahai Ibnu Masud, anak ini mengatakan dia telah membuat Abu Jahal terluka, pergilah dan lihatlah dia disana,” kata Rasulullah.
Abdullah ibnu Mas’ud segera pergi mencari Abu Jahal, didapatinya pimpinan Quraisy itu terluka parah tetapi masih hidup. Tanpa rasa belas kasihan Abdullah bin Mas’ud menekan leher Abu Jahal sambil berkata,” Wahai musuh Allah dan musuh RasulNya, pada hari ini Allah menghinakanmu.”
“Dengan apa Allah menghina aku? Apakah karena aku mati ditangan engkau? Tanya Abu Jahal yang masih menunjukkan kesombongannya.
Abdullah ibnu Mas’ud mengangkat pedang hendak memenggal kepala Abu Jahal, tetapi Abu Jahal berujar,” sebelum engkau membunuh aku, beritahu dahulu pihak mana yang memenangi pertempuran ini, milik siapakah kemenangan hari ini?”
“Pasukan Quraisy kalah, kemenangan itu milik Allah dan RasulNya,” Jawab Abdullah bin Mas’ud.
“Anda bohong wahai pengembala kambing !” kata Abu Jahal, dia masih menunjukkan angkuhnya walau situasi sedang kritis.
Tanpa ada sela waktu, pedang Abdullah bin Mas’ud menebas kepala Abu Jahal
Berita terbunuhnya Abu Jahal dengan cepat disampaikan kepada pasukan Islam, mereka menjadi semakin membara dan semangat, tetapi dipihak lain berita kematian itu meluluhkan semangat pasukan Quraisy….
Rasul mendengar berita kematian Abu Jahal dari Abdullah bin Mas’ud, beliau mengatakan ,” Wallahi, Laa ilaha illaLLah , Laa ilaha illaLLah, Laa ilaha illaLLah, Allahu Akbar, AlhamduliLLah , Dia yang memenuhi janjiNya dengan menolong hambaNya dan mengalahkan musuhNya.”
Begitulah kematian musuh Allah, secara fisik dan kemegahan saat itu Abu Jahal termasuk manusia yang dihormati kaumnya, punya posis tinggi, tapi Allah menghinakannya, dimulai dengan serangan dua orang remaja dibawah umur, segala kekuatannya tumbang atas izin Allah, sebuah bukti hanyalah dengan kekuatan iman dan jihad lah yang dapat mengalahkan kekuatan kekuatan musrik dan musuh Islam dari dulu hingga sekarang…
Ya Allah kuatkanlah Islam dengan generasi yang Engkau ridhoi, dan munculkanlah kekuatan Islam dari munculnya pemuda pemuda muslim belia seperti Muaz bin Amr Al-jamuh, dan Muawwiz bin Afra…
0 komentar

Ingin Bisa Khutbah dan Ceramah

Musyafa Ahmad Rahim, Lc
Ust. Musyaha Ahmad Rahim, Lc.


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustadz, alhamdulillah, saya aktif berdakwah di kampus dan sekolah. Biasanya di kegiatan kerohanian Islam. Banyak yang bisa saya perbuat: merekrut kader, membina, dan mengarahkan rekan-rekan aktivis untuk melakukan terobosan program baru.
Namun, ada satu masalah yang hingga saat ini kerap mengganggu pikiran saya. Saya merasa tidak mampu mengisi tabligh atau forum-forum dakwah yang bersifat massal. Sudah beberapa kali saya memberanikan diri khutbah Jum’at dan ceramah di masjid. Tapi, kurang memuaskan. Banyak peserta yang kecewa dengan penampilan saya. Akhirnya, saya putuskan untuk tidak menerima undangan ceramah, khutbah, dan sejenisnya.
Benarkah keputusan saya itu? Tapi, hati kecil saya mengatakan saya ingin sekali bisa berkhutbah dan berceramah. Bagaimana ini, Ustadz?
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ahmad Khairul, Bekasi.
Jawaban:
Wa’alaikumussalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara Ahmad Khairul yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala dan para pengunjung dakwatuna.com di mana saja Anda berada, semoga Anda semua senantiasa mendapatkan bimbingan, hidayah, dan taufiq dari Allah subhanahu wa ta’ala, juga senantiasa dalam keadaan iman, Islam, dan ihsan yang terus terjaga dan meningkat dari waktu ke waktu. Amin.
Terlebih dari itu, semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menghimpun kita semua dalam barisan ad-da’wah ilaLlah, menyeru dan mengajak manusia untuk kembali ke jalan-Nya. Amin.
Saudara Ahmad Khairul, dari masalah yang Antum hadapi, saya menyimpulkan ada dua hal yang perlu kita bahas, yaitu:
  1. Pertama, masalah syumuliyatul ‘amal ad-da’awi wa takamuliyatuhu (kemenyeluruhan dan sinergitas kerja dakwah), dan
  2. Kedua, masalah tanmiyatul qudurat adz-dzatiyah lid-da’iyah (pengembangan kemampuan-kemampuan diri bagi seorang dai)
Masalah Pertama
Saudaraku, dakwah yang kita maksud di sini adalah mendakwahkan Islam atau menyerukan agama Islam kepada seluruh umat manusia, agar agama yang diridhai di sisi Allah subhanahu wa ta’ala menjadi jalan hidup mereka dan mereka tidak meninggal kecuali dalam keadaan muslim.
Agama Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh, mencakup segala segi dan sisi kehidupan), dan juga mutakamil (antara satu segi dan satu sisi dengan segi dan sisi lainnya saling menyempurnakan, saling melengkapi dan membentuk sinergi).
Karena itulah, dakwah Islam juga bersifat syamilah (menyeluruh dan mencakup segala segi dan sisi kehidupan) dan mutakamilah (saling melengkapi, saling menyempurnakan dan membentuk sinergitas).
Dakwah yang syamilah dan mutakamilah ini menuntut:
• Adanya amal (kerja) yang syamil dan mutakamil.
• Adanya potensi, kemampuan, dan jerih payah yang syamil dan mutakamil pula.
Oleh karena itu, wahai saudaraku, kemampuan, potensi, dukungan dan jerih payah apa saja yang dimiliki oleh umat Islam ini, bisa dan harus disumbangkan untuk dakwah, sesuai dengan daya dukung masing-masing. Yang memiliki kemampuan rekruiting, silahkan menyumbangkan kemampuannya untuk merekrut. Yang memiliki kemampuan membina, pergunakanlah kemampuannya itu untuk membina.
Dan Anda, saudaraku Ahmad Khairul, perlu bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena Anda mempunyai kemampuan merekrut, membina, dan mengarahkan. Maksimalkan kemampuan ini agar semakin produktif lagi sehingga prestasi amal shalih Anda di sisi Allah subhanahu wa ta’ala akan semakin besar, banyak dan semakin baik. Semoga amal-amal Anda yang seperti itu menjadi pemberat amal kebaikan Anda di akhirat nanti.
Masalah Kedua
Saudara Ahmad Khairul dan pengunjung dakwatuna.com yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala di mana pun Anda berada, sebagai makhluq yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan ta’lim (Q.S. Al-‘Alaq: 3-5), tentunya kita tidak ingin berhenti pada garis kemampuan yang sekarang kita miliki semata.
Seorang bayi tidak pernah berhenti dari belajar dan berlatih. Dan setelah dia mampu merangkak, berjalan, berlari, naik sepeda dan semacamnya, ia tidak akan puas lalu berhenti dari belajar dan berlatih. Ia akan menjadi manusia yang terus belajar dan berlatih. Ia akan terus berusaha untuk memiliki berbagai kemampuan lain yang belum dimilikinya.
Seorang dai, secara kauni seperti umumnya manusia lainnya, ia akan terus belajar dan berlatih. Dan secara syar’i, ia memang diwajibkan (bahkan dalam bahasa hadits: di-fardhu-kan) untuk menuntut ilmu, ilmu syar’i, ilmu kaun (alam), ilmu madani-hadhari (kemajuan-peradaban) dan pengembangan potensi.
Oleh karena itu, kalau selama ini Anda berkeinginan untuk bisa berceramah secara massal, berkhuthbah dan semacamnya, keinginan seperti ini adalah wajar dan bahkan Anda diperintahkan untuk mempelajarinya. Dan jika Anda telah mempelajarinya, berusaha secara maksimal, dan sampai wafat Antum tetap belum menguasainya, maka tanggung jawab Anda untuk belajar hal ini sudah terpenuhi, insya Allah dan insya Allah, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan meminta pertanggungjawaban dari Anda: kenapa Anda tidak bisa?
Karenanya, teruslah Anda berusaha dan belajar. Sebelum Allah subhanahu wa ta’ala memanggil Anda, jangan pernah berhenti dari berusaha dan belajar.
Hal itu berlaku bukan sebatas pada kemampuan berceramah massal dan berkhuthbah semata, akantetapi berlaku pada segala macam ilmu yang di-fardhu-kan dan dituntut dari kita untuk kita pelajari, baik ilmu syar’i, kauni, madani-hadhari dan pengembangan potensi.
Saya menyarankan kepada Anda, wahai saudaraku Ahmad Khairul, belajarlah mulai dari yang kecil dan sederhana. Misalnya, menyampaikan taushiyah (pesan) atau mau’izhah di hadapan teman-teman Anda, bisa 2 orang, 3 orang atau 5 orang dalam tempo 2-3 menit. Lalu, secara gradual, periodik dan terus menerus Anda melakukan peningkatan. Baik dari sisi tempo waktu yang Anda sampaikan, maupun dari sisi jumlah pendengar yang mengikuti taushiyah atau mau’izhah Anda itu.
Anda juga bisa memulai dengan cara membaca teks yang telah terlebih dahulu Anda persiapkan. Catatlah segala hal yang ingin Anda sampaikan. Dan saat berbicara, Anda tinggal membaca teksnya saja. Insya Allah, secara perlahan dan sedikit demi sedikit Anda akan menjadi terbiasa untuk tidak melihat teks. Kalau suatu saat diminta berbicara secara mendadak, insya Allah akan bisa walaupun untuk pertama kalinya memang masih terasa berat dan menegangkan. Jika Anda mengalami kegagalan, janganlah merasa berkecil hati. Tetaplah belajar dan berlatih. Jangan lupa berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semoga Antum menjadi penyebab bagi terbukanya hati para pendengar, atau sebagiannya untuk menerima hidayah Allah subhanahu wa ta’ala.
Di samping hal-hal yang sifatnya teknis dan skill melalui belajar dan latihan, yang lebih penting untuk Anda perhatikan adalah masalah hubungan Anda dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Perbaikilah. Jaga kebersihan hati (tazkiyatun-nafs), khususnya yang terkait dengan ikhlash dan shidiq: Sebab, apa yang keluar dari hati yang ikhlash dan shidiq akan masuk dan diterima oleh hati para pendengarnya dan akan memberikan pengaruhnya di sana. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita semua sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang bertakwa. Amin.
0 komentar

Doa Yang Sangat Kita Perlukan


Oleh: Ihsan Tandjung
Ada sebuah doa yang biasa dibaca oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Isi doa ini jika kita renungkan dalam-dalam ternyata sangat mencakup berbagai permintaan yang sangat kita perlukan. Sebab semuanya sering mewarnai kehidupan sehari-hari manusia. Coba perhatikan:
رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ وَعَمْدِي وَجَهْلِي وَهَزْلِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau biasa berdo’a dengan do’a sebagai berikut; “Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, dan perbuatanku yang berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kemalasanku, kesengajaanku, kebodohanku, gelak tawaku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan dan dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan, Engkaulah yang mengajukan dan Engkaulah yang mengakhirkan, serta Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR Bukhari – Shahih)
Tema sentral di dalam doa ini adalah seorang hamba Allah subhaanahu wa ta’aala memohon ampunan-Nya. Setidaknya ada tigabelas poin yang diajukan hamba tersebut kepada Rabb-nya. Semuanya ia harapkan diampuni oleh Allah subhaanahu wa ta’aala:
Pertama, “Ya Allah, ampunilah kesalahanku”. Kesalahan dapat mencakup perintah Allah yang dilalaikannya atau larangan Allah yang dilanggarnya.
Kedua, “Ya Allah, ampunilah kebodohanku”. Manusia tidak luput dari kebodohan. Tidak ada manusia yang memiliki pengetahuan sempurna. Dan kebodohan seseorang seringkali menyebabkan tingkahlaku yang tidak terpuji. Sehingga ia perlu memohon ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala atas kebodohan dirinya.
Ketiga, “Ya Allah, ampunilah perbuatanku yang berlebihan dalam urusanku”. Terkadang kita mengerjakan suatu perbuatan secara tidak adil atau tidak proporsional. Perbuatan berlebihan tersebut sangat mungkin menyakiti hati bahkan menzalimi orang lain. Maka kita berharap ampunan Allah atas perbuatan berlebihan di dalam berbagai urusan.
Keempat, “Ya Allah, ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku”. Manusia sering mengerjakan kesalahan tanpa ia menyadarinya. Orang lain boleh jadi dengan mudah melihat kesalahannya, tetapi ia sendiri tidak menyadarinya. Maka untuk urusan seperti ini seorang mukmin memohon ampunan Allah Yang Maha Tahu segala sesuatunya. Seorang mukmin mengakui jika Allah subhaanahu wa ta’aala merupakan Dzat Yang Maha Tahu perkara yang ghaib  maupun nyata, maka iapun mengembalikan segenap dosa yang ia sendiri tidak ketahui kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Ia serahkan dosa jenis ini kepada Ke-Maha-Tahu-an Allah subhaanahu wa ta’aala. Sebab ia yakin bahwa Allah pasti jauh lebih mengetahui dosa yang dilakukan hamba-Nya daripada si hamba itu sendiri.
Kelima, “Ya Allah, ampunilah kesalahanku”. Manusia bisa terlibat di dalam banyak kesalahan. Maka ia memohon kembali ampunan Allah atas kesalahannya padahal sebelumnya ia telah mengajukannya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala.
Keenam, “Ya Allah, ampunilah kemalasanku”. Kemalasan dapat menjadi musuh utama yang menyebabkan seseorang menunda bahkan melalaikan suatu kewajiban yang mestinya ia kerjakan. Pengakuannya di hadapan Allah bahwa dirinya terkadang dilanda kemalasan jelas mesti disertai dengan permohonan ampunan Allah atasnya.
Ketujuh, “Ya Allah, ampunilah kesengajaanku”. Harus diakui bahwa terkadang kita secara sengaja melakukan suatu kesalahan. Entah karena emosi, atau terpengaruh lingkungan atau berbagai alasan lainnya. Yang jelas, semua kesengajaan itu mesti kita istighfari, mesti kita mintakan ampunan Allah atasnya.
Kedelapan, “Ya Allah, ampunilah kebodohanku”. Subhaanallah, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengerti akan kelemahan kita yang satu ini. Manusia memang selalu kekurangan ilmu sehingga ia mustahil luput dari kebodohan. Sehingga permohonan ampunan Allah atas kebodohan diri perlu diajukan berulang-kali.
Kesembilan, “Ya Allah, ampunilah gelak tawaku yang semua itu ada pada diriku.” Apakah tertawa itu berdosa? Tentunya tidak. Tetapi bila dilakukan secara tidak proporsional ia akan mendatangkan masalah. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS At-Taubah 82)
Sementara itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَاللهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
“Demi Allah, andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian jarang  tertawa dan sering menangis.” (HR Tirmidzi  – Shahih)
Kesepuluh, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu”. Kita perlu berhati-hati terhadap dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu. Sebab boleh jadi dosa tersebut belum sempat kita istighfari di waktu itu. Maka saat ini kita akui dan sesali di hadapan Allah subhaanahu wa ta’aala. Bahkan kita mohonkan ampunan Allah atasnya.
Kesebelas, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang mendatang”. Seorang mukmin sadar jika hidupnya bukan hanya terdiri atas masa lalu dan masa kini. Tetapi juga meliputi masa yang akan datang. Demikian pula dengan dosa yang dikerjakan. Ia tidak hanya terjadi di masa lalu dan masa kini semata. Tetapi tentunya sangat mungkin bisa terjadi di masa mendatang. Oleh karenanya dengan penuh kejujuran ia mengharapkan ampunan Allah atas dosa yang mendatang. Dan tentunya ini tidak boleh dilandasi niat buruk berrencana dengan sengaja berbuat dosa di masa mendatang.
Keduabelas, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang aku samarkan”. Seorang mukmin sangat khawatir dengan dosa yang ia lakukan sembunyi-sembunyi atau tersamar. Sebab ia teringat hadits sebagai berikut:
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikan kebaikan itu debu yang beterbangan.” Tsauban berkata; “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah jika mereka berkhulwah (menyendiri).” (HR Ibnu Majah – Shahih)
Ketigabelas, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan”. Sedangkan terhadap dosa yang ia kerjakan secara tersamar saja ia sudah sangat khawatir, maka apalagi dosa yang dilakukan secara terbuka. Oleh karenanya ia sangat memohon ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala atasnya.
Sungguh luar biasa, ketigabelas poin di atas jelas merupakan dosa dan kesalahan yang sangat sering kita lakukan. Betapa beruntungnya ummat Islam diajarkan oleh Nabi mereka suatu doa yang sungguh diperlukan.
Ya Allah, limpahkanlah sholawat dan salam kepada Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Amiin ya rabbal ‘aalamiin.
0 komentar

THE CHOSEN: Orang-orang Pilihan | Tadabur QS Ali Imran

THE CHOSEN
Tadabur QS Ali Imran

Oleh Saiful Bahri, Ph.D
Ph.D in Tafsir al-Quran Al-Azhar Cairo
 

Menjadi orang-orang pilihan yang dihargai karena prestasi adalah merupakan sebuah kebahagiaan. Sebuah kepuasan psikis. Manusiawi. Lantas, bagaimana jika orang-orang pilihan tersebut dipilih dan dinobatkan oleh Allah.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (QS. 3:33)

Rahasia apakah yang membuat mereka terangkat dalam lembaran sejarah sebagai orang-orang pilihan. Adam dan Nuh mewakili dua individu secara personal. Dan Keluarga Ibrahim serta keluarga Imran menjadi sebuah prototipe keluarga teladan.

Pertama; Nabi Adam adalah manusia pertama yang dipilih Allah untuk mengemban misi kekhilafahan (memakmurkan bumi Allah). Misi tersebut pernah ditawarkan kepada makhluk-makhluk Allah yang lain, langit, bumi dan gunung-gunung. Akan tetapi mereka menyatakan tak sanggup memikul amanah yang berat. Maka amanah tersebut dibebankan kepada manusia (lihat QS. 33:72). Misi ini pun mendapat tanggapan dan konfirmasi dari beberapa pihak. Malaikat menengarai mereka akan membuat bencana di atas bumi. Dan apa yang diprediksikan malaikat tersebut benar. Akan tetapi tidak semua manusia seperti itu. Dan bukan manusia seperti mereka yang mengemban amanah dari Allah. Mereka yang laik tersebut tidaklah banyak, karena tanggungan memanggul amanah tidaklah mudah dibebankan kepada siapa saja.

Adam yang dibekali Allah dengan ilmu dan akal diangkat derajatnya. Bahkan para penduduk langit diwajibkan sujud kepadanya. Sujud takzhim atas titah-Nya, bukan penyembahan atau penghambaan kepada makhluk-Nya. Iblis yang menolak perintah tersebut pun dilaknat Allah. Dimurkai. Dan –bahkan- diusir dari langit.

Kemudian, makar iblis pun dirancang untuk menggelincirkan Adam. Ia menabuh genderang permusuhan abadi terhadap Adam dan kelak anak-cucunya. Karena Adam lah yang menjadi sebab terusirnya Iblis dari langit.

Sebagai buahnya, Adam memang melakukan pelanggaran akibat kelalaian dari bujukan iblis. Tapi kelalaian tersebut dibayar dengan keinsyafan dan penyesalan yang dalam. “Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.“ (QS. 7:23) Dan kesadaran, keinsyafan dan ketundukan yang khusyu’ sebagai refleksi perbaikan diri dijadikan Allah sebagai salah satu ciri-ciri orang bertaqwa. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”(QS. 3:135). Orang berprestasi bukanlah mereka yang tidak melakukan kesalahan. Namun mereka yang mampu menimpali kesalahan tersebut dengan kebaikan-kebaikan serta usaha perbaikan diri dan tidak putus asa pada rahmat Allah.

Kedua; Adapun Nabi Nuh as. yang sering dijadikan ikon dan simbol keteguhan dan kesabaran. Bagaimana tidak? Beliau berdakwah selama 950 tahun, namun pengikutnya tak lebih dari 50 orang. Bahkan yang lebih menyakitkan, istri dan anak lelakinya justeru menjadi bagian dari mereka yang menghalangi bahkan memusuhi dakwahnya. Mundurkah Nabi Nuh dari tugas risalah yang dibebankan Tuhannya? Sejarah merekamnya tidak demikian. Nuh as. tetap mantap melangkah menyampai-kan dakwahnya siang malam, dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dengan berbagai sarana dan usaha. Namun, balasan kaumnya justeru menyakitkan. Ancaman fisik, teror mental dan psikis menjadi bagian yang tak terelakkan dari kehidupan Nabi Nuh. Terlebih ketika turun wahyu pembuatan kapal penyelamat. Nabi Nuh membuatnya di tengah padang pasir. Mereka menertawakan, mengejek dan mengolok-olok bahkan melempari dengan kotoran. Kisah-kisah kesabaran ini ada di berbagai surat dalam al-Qur’an. Namun secara spesifik ada dalam sebuah surat yang dinamakan Surat Nuh. Kisah kegigihan dakwah beliau bisa dilihat dalam surat ini. Pun pada saat banjir bandang melanda seluruh permukaan bumi dengan air mata berlinang beliau memanggil anaknya untuk bergabung dengannya. Namun ia menolaknya sehingga tenggelam ditelan air. Hal ini menunjukkan betapa beliau sangat mengharap dakwahnya diterima keluarganya. Namun Allah menguji beliau dengan perhelatan psikis yang dahsyat. Lihatlah rekaman dialog beliau dengan anaknya serta perhelatan psikis ini dalam surat Hud ayat 42-46. Nuh yang teguh dan tidak putus asa pada akhirnya diselamatkan Allah bersama sedikit dari kaumnya dan beberapa pasang binatang yang berada dalam kapalnya. Kesabaran seperti inilah yang dibutuhkan saat ini. Saat kita berniat baik namun respon sosial justeru sebaliknya; mencurigai, memusuhi bahkan meneror. Selaiknya Nabi Nuh kita contoh. Tak ada kata mundur. Tak ada kata menyerah. Beliau hanya mengerahkan segenap usaha kemanusiaan. Dan Allah mengganjarnya, sebagai salah satu nabi pilihannya yang istimewa yang dikenal dengan ulul azmi.

Ketiga; Bila sebelum ini dua individu dipilih Allah sebagai contoh dan teladan manusia. Berikutnya Allah menyertakan Ibrahim dan keluarganya sebagai prototipe keluarga ideal. Yang sukses mengorganisir potensi internal anggota keluarga yang kemudian digunakan untuk berdakwah dan bersosial di tengah-tengah masyarakat.

Lihatlah Ibrahim muda yang cerdas ketika berdebat dengan rezim yang zhalim. Lihatlah keberanian Ibrahim muda meluluhlantakkan khurafat dan simbol kejahiliahan kaumnya. Lihat pula kegigihan dan keteguhan beliau berpegang pada prinsip meski dipanggang di tengah api yang juga sebagai makhluk Allah. Dengan titah-Nya pula hal ini menjadi pintu mukjizat bagi beliau. “Kami berfirman: Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS. 21:69).

Pun pada saat beliau berkeluarga. Kesabaran menanti keturunan juga patut dijadikan contoh. Demikian halnya pengajaran dan pendidikan akidah yang mantap dan matang pada keluarganya.

Lihatlah kisah mengharukan yang diabadikan al-Quran ketika beliau meninggalkan anak dan istrinya di sebuah lembah yang tak ada kehidupan sedikitpun di sana (lihat QS. 14:37) Demikian halnya pendidikan kepasarahan dan ketundukan pada Allah ditanamkan pada anak-anaknya. Sebagai contoh kedewasaan Ismail pada usia yang belia saat turun perintah penyembelihan. Sebagai balasan ujian ini Allah menggantinya dengan kemuliaan di atas kemuliaan. Beliau yang dijuluki sebagai abul anbiyâ’ (bapaknya para nabi) ini adalah khalîlurrahmân, kekasih Allah. Anak dan bapak ini lah dengan titah Allah membangun ka’bah yang kelak menjadi kiblat seluruh kaum muslimin. Yang juga menjadi salah satu poros dalam ibadah haji. Bahkan kisah-kisah heroik Ibunda Hajar diabadikan menjadi salah satu manasik haji. Sa’i (berlari-lari kecil) akan mengingatkan kita bagaimana beliau panik mencari air untuk anak semata wayangnya yang kehausan. Dan dari hentakan kaki Ismail kecil Allah memancarkan zamzam, sebuah mata air yang hingga kini terus memancar. Bahkan sarat dengan berbagai kelebihan melebihi air manapun di permukaan bumi.

Ketika melempar jamarat pun kita mengingat bagaimana Nabi Ibrahim menyambit syetan yang terus mengganggunya dan menggodanya. Sebenarnya ini sekedar simbol. Karena permusuhan abadi syetan ada pada diri manusia. Karena syetan mengalir dalam darah manusia.

Keluarga sukses seperti yang dibina Nabi Ibrahim as laik dicontoh untuk membentuk keluarga ideal. Penanaman akidah sejak dini pada anak, mendidik istri sehingga matang dan mantap dengan jalan dakwah suaminya. Pada akhirnya semua bermuara menjadi pendukung bahkan penopang dakwah yang diembannya. Dan akan terasa semakin ringan. Meski terror kezhaliman tak pernah sepi. Tapi Ibrahim semakin kokoh dan kuat. Bahkan sampai keturunannya pun menjadi penerus estafet dakwahnya. Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf dan berakhir pada Nabi Muhammad yang menjadi pamungkasnya.

Keempat; Bila tiga sampel sebelumnya Allah memilihnya dari kalangan Nabi dan Rasul-Nya. Maka orang pilihan keempat pada ayat yang kita tadabburi jatuh pada keluarga Imron. Keluarga biasa dari kalangan Bani Israil yang bukan nabi juga bukan dari kalangan rasul. Bahkan figur Imron sama sekali tak pernah disinggung. Namun, biasnya terlihat pada istri dan anak perempuannya, Maryam. Bahkan namannya tersemat menjadi salah satu nama surat dalam al-Qur’an.

Kegiatan dan kondisi keluarga Imran misalnya; tergambar sebuah kesalihan kolektif yang diwakili oleh istri Imran yang hendak mendermakan seluruh hidupnya demi sebuah pengabdian pada Tuhannya. Sehingga ia bernadzar hendak mengabdikan anaknya kelak untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Namun, ia terkejut ketika bayi perempuannya lahir. Semula ia menyangka nadzarnya akan kandas. Ia tetap memohon penerimaan ketulusan niatnya. Allah pun menerimanya. Bahkan mendidiknya dengan segala inayah dengan naungan berbagai kelebihan. Sehingga kematangan Maryam kecil memang seolah dipersiapkan untuk mengemban tugas berat. Kelak. Sebagai ibu seorang nabi yang terlahir dari rahimnya yang suci. Dengan titah Allah. Dengan kalimat Allah. Tanpa perantara seorang bapak. Dan Maryam ini pulalah yang mengajarkan sebuah makna tauhid dan kemahakuasaan Allah kepada Nabi Zakaria as. ketika beliau bertanya padanya. “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS. 3:37) Sebuah kesalihan yang terbina sejak kecil, dari anak yatim tersebut. Kesalihan yang memantul dari pribadi ibunya yang salihah. Dari sejak sebelum melahirkannya.

Anehnya, justru kisah pribadi Imran tak kita jumpai di sini. Atau di bagian lain dari al-Qur’an. Seorang lelaki salih yang tak sempat menyaksikan kelahiran putrinya. Karena Allah memang menginginkannya demikian. Supaya hanya Dia yang merawat dan mendidik anaknya. Tidak disebutkannya kisah Imran ini –walLâhu a’lam-merupakan jawaban atas tuduhan diskriminasi gender dalam al-Qur’an. Bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peluang yang sama untuk menjadi orang-orang pilihan Allah. Perkataan istri Imran, “dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan”. (QS. 3:36) bukanlah ungkapan diskriminatif. Sebuah keterkejutan yang wajar bila ternyata bayinya seorang perempuan. Lantas bagaimana ia merealisasikan nadzarnya? Dan Allah pun menerimanya dengan penerimaan yang baik. (QS. 3:37)

Kesalihan kolektif ini tidaklah mungkin hanya diraih individu-individu yang ada di dalamnya tanpa sebuah kesalihan pemimpinnya. Imran yang salih menjadi pantulan kedewasaan, kematangan, ketabahan, ketulusan, kesediaan untuk berkorban dan beberapa determinan kesalihan kolektif tersebut. Berbahagialah Imran yang berhasil memimpin keluarganya. Bukankah demikian, impian orang-orang salih sebelum kita. Yang senantiasa menggumamkan doa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. 25:74) Dan Imran meraih predikat itu. Beliau dan keluarganya laik menjadi teladan bagi umatnya.

Kematangan Maryam pula yang-seolah-menyadarkan kembali Nabi Zakaria akan berbagai keajaiban yang mungkin terjadi dengan ketidakterbatasan kuasa Allah. Dan beliau yakin bahwa keajaiban tersebut hanya bisa diraih dengan kedekatan pada yang pemilik berbagai keajaiban. Karenanya, dengan keyakinan penuh beliau bermunajat. Dan Allah mengabulkan keinginannya. Dengan karunia penyambung keturunan sekaligus estafet dakwahnya.

Orang-orang pilihan yang diangkat dalam ayat ini mempunyai karakteristik yang sama; rabbani. Dan di antara mereka memiliki kesinambungan perjuangan dan estafet dakwah. Anda ingin menjadi orang pilihan? Ikuti jejak mereka. Lanjutkan tongkat estafet dakwah mereka. WalLâhu a’lam. []


*http://saifulelsaba.wordpress.com
0 komentar

Sekelumit FSLDK

DEFINISI FSLDK
FSLDK kependekan dari Forum Silaturrahim (bukan silaturrahmi, sesuai hasil FSLDKN XIII) Lembaga Dakwah Kampus. Berbicara mengenai definisi FSLDK, kita akan mendapati dua persepsi berbeda. Persepsi pertama, kita memahami FSLDK sebagai jaringan. Sedangkan persepsi kedua, FSLDK adalah musyawarah nasional/daerah yang diadakan secara rutin. Sebenarnya, subjek dan objek kedua pengertian tadi sama, yaitu LDK. Akan tetapi perlu dipertegas lagi perbedaannya untuk mencegah ambiguitas.
Persepsi pertama, FSLDK adalah jaringan yang beranggotakan LDK-LDK (bukan orang per orang) se-Indonesia. Sifat keanggotaan FSLDK cukup terbuka, artinya setiap LDK berhak bergabung dengan FSLDK. Hal ini dikarenakan salah satu visi FSLDK adalah mengoptimalkan akselerasi da’wah kampus nasional. Jaringan FSLDK sudah tersebar luas di seluruh Nusantara. Mulai dari ujung Sumatra hingga Papua.
Hingga saat ini agenda FSLDK semakin beragam, seperti pendampingan LDK, training manajemen LDK, Simposium Internasional Palestina, penyikapan isu bencana, dan sebagainya. Jika dirangkum, program FSLDK secara garis besar ada dua yaitu ke-LDK-an dan penyikapan isu. Salah satu contoh program ke-LDK-an adalah pendampingan LDK. Kegiatan lain yang pernah dilakukan adalah penyikapan isu seperti RUU APP dan Palestina.
Persepsi kedua, FSLDK adalah musyawarah akbar. Di tingkat nasional, kita mengenal istilah Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDKN). FSLDKN yang terakhir diselenggarakan di Universitas Lampung pada tahun 2007 Sedangkan di tingkat daerah, ada juga istilah Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Daerah (FSLDKD).

FUNGSI FSLDK
Fungsi FSLDK pada awal berdirinya adalah sebagai sarana sharing atau diskusi seputar LDK masing-masing. Kemudian fungsinya berkembang seiring bertambahnya usia forum tersebut.
Sebagaimana yang disebutkan pada pembahasan sebelumnya, agenda pokok FSLDK meliputi dua hal yaitu ke-LDK-an dan penyikapan isu. Dari dua hal tersebut, fungsi FSLDK dapat diturunkan menjadi sebagai berikut:
  1. Sarana perwujudan akselerasi da’wah kampus nasional
  2. Sarana silaturahim, belajar, dan berbagi pengalaman antarpengurus LDK
  3. Wadah untuk mewujudkan peran aktif LDK dalam menyikapi permasalahan keummatan
SEJARAH SINGKAT
AWAL BERDIRI
Kondisi obyektif kampus yang berbeda-beda memaksa masing-masing lembaga dakwah kampus selama ini berkembang dengan pola sendiri-sendiri, sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya. Di samping itu, banyaknya persoalan dakwah di dalam kampus menyebabkan LDK juga lebih mengarahkan perhatiannya ke dalam kampusnya masing-masing, dan kurang memberikan perhatian pada kebersaman gerak dakwah.
Keadaan ini berakibat melemahnya kekuatan gerak dakwah secara global. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu jalinan koordinasi yang baik di antara lembaga dakwah kampus yang ada demi terciptanya kekuatan gerak dakwah yang terpadu, kokoh, laksana satu bangunan yang saling menguatkan.
Forum Silaturahhim Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDKN) merupakan salah satu bentuk koordinasi dakwah yang berfungsi sebagai sarana bagi terciptanya gerak dakwah yang teratur, terpadu, dan kompak tadi menuju ummatam wahidah. Cikal bakal lahirnya FSLDKN adalah acara yang bernama Saresehan LDK yang diadakan pada tanggal 14-15 Ramadhan 1406 atau 24-25 Mei 1986 oleh Jamaah Shalahuddin UGM, bertempat di UGM, Yogyakarta .
Forum yang pembukaannya diadakan di Gedung Pertemuan UGM dan pertemuan lanjutannya di Pesantren Budi Mulya itu, diikuti oleh 26 peserta utusan 13 LDK se-Jawa, yakni:
  • Jamaah Shalahuddin UGM
  • Jamaah Mujahidin IKIP Yogyakarta
  • LAI Undip Semarang
  • Unsoed Purwokerto
  • UNS Solo
  • Lpisat Usakti Jakarta
  • UI Jakarta
  • BKI Bogor
  • UIKA Bogor
  • Karisma Salman ITB Bandung
  • Unpad Bandung
  • UKKI Unair Surabaya
  • BDM Al-Hikmah IKIP Malang
Hasil dari pertemuan yang ternyata telah lama dinantikan oleh banyak peserta ini adalah perlunya meningkatkan ukhuwah Islamiyah antara lembaga dakwah kampus, setidak-tidaknya antar fungsionaris lembaga dakwah kampus.
Selain itu, disepakati untuk melanjutkan komunikasi dan koordinasi antar-LDK dengan pembagian wilayah koordinasi sebagai berikut:
  • Wilayah barat dikoordinir oleh Salman Institut Teknologi Bandung
  • Wilayah tengah dikoordinir oleh Jamaah Shalahuddin UGM Yogyakarta
  • Wilayah timur dikoordinir oleh UKKI Universitas Airlangga Surabaya
Juga dihasilkan kesepakatan untuk memahami kondisi dakwah di kampus.
Menyadari bahwa FSLDK dihadiri oleh LDK yang berbeda-beda proses terbentuk, kelembagaan, kondisi lingkungan, maka hubungan antar LDK didasarkan semata pada ikatan ukhuwah Islamiyyah yang bersemangatkan i’tisham bihablillah. Itulah yang selama ini terus berlangsung hingga kini.
PERKEMBANGAN FSLDK
Pasca diadakannya Saresehan LDK itu, segenap peserta menyepakati tentang perlunya membina jaringan dan ukhuwah antar-LDK. Sehingga muncullah agenda-agenda susulan sebagai follow up-nya.Agenda- agenda tersebut adalah:
JARINGAN KOMUNIKASI
Perlu ditekankan bahwa skema di atas bukanlah berupa struktur organisasi, melainkan alur koordinasi dan informasi.
  • Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas) adalah koordinator jaringan FSLDK pada tingkat nasional. Puskomnas dijabat oleh lembaga (LDK) bukan perorangan dan dipilih pada saat FSLDK Nasional. Masa jabatannya dua tahun sesuai dengan waktu penyelenggaraan FSLDK Nasional. Sedangkan koordinator Puskomnas dipilih oleh lembaga yang bersangkutan sesuai kondisi lembaga tersebut dan dapat diganti bila keadaan di internal LDK memaksa. Saat ini Universitas Airlangga  Surabaya diamanahkan sebagai Puskomnas, dengan Adistiar Prayoga sebagai koordinatornya.
  • Pusat Komunikasi Daerah (Puskomda) adalah koordinator jaringan FSLDK di tingkat daerah sekaligus pengeksekusi agenda-agenda nasional di daerahnya. Daerah kerja Puskomda bukan dibagi berdasarkan provinsi. Sehingga bisa jadi sebuah provinsi memiliki lebih dari satu Puskomda. Atau sebaliknya, satu Puskomda menangani lebih dari satu provinsi. Sama halnya dengan Puskomnas, Puskomda juga dijabat oleh lembaga, bukan perorangan. Sedangkan yang menentukan koordinator Puskomda adalah LDK yang bersangkutan.
  • LDK adalah unit terkecil dari jaringan LDK. Posisinya di jaringan FSLDK adalah sebagai objek sekaligus subjek.
Skema di atas merupakan alur koordinasi secara garis besar. Pada prakteknya di lapangan, alur tersebut tidak benar-benar direalisasikan karena beberapa hal. Misalnya, karena jumlah Puskomda cukup banyak (27 LDK) dan tersebar luas, Puskomnas tidak bisa menjangkau seluruhnya. Untuk itu diperlukanlah sebuah badan yang berfungsi sebagai perpanjangan tangan Puskomnas di daerah-daerah. Maka dibentuklah Badan Pekerja Puskomnas (BP-Nas). Tugasnya mengontrol kinerja Puskomda dan menyampaikan informasi dari Puskomnas ke Puskomda. BP merupakan bagian dari Puskomnas sehingga tidak dicantumkan pada skema di atas.
Dalam menjalankan tugasnya ataupun menyusun agendanya, Puskomnas ternyata tidak bisa berjalan sendiri. Maka dibentuklah badan-badan lain dengan nama BP Khusus.
Selain BP, dalam jaringan FSLDK dikenal juga istilah OC dan SC (Steering Committee) FSLDK Nasional. OC adalah pelaksana teknis sekaligus tuan rumah FSLDKN. Sedangkan SC adalah pendamping OC dalam menjalankan tugas dalam hal pengkonsepan acara, dana, humas, dan jejaring
0 komentar
(c) Luka Gorjup
Belajar dari awal, Teknik Dasar Public Speaking
Saya tahu, Anda telah memahami esensi dari pengertian publik speaking, dan alasan pentingnya kita perlu belajar public speaking. Artikel kali ini akan mulai mengupas bahasan teknis perihal dasar-dasar bicara di publik.
Untuk menjadi ahli, mutlak perlu menguasai ilmu, tentu dimulai dari pondasi dasar. Berikut ini merupakan teknik public speaking atau teknik berbicara dasar: bagaimana memulai dan mengakhiri sebuah Public Speaking yang tepat.
4 Teknik Public Speaking Dasar :
1. Start of fire
Bagian ini merupakan kemampuan untuk membuka, menggedor perhatian, dan memecah suasana pribadi ataupun audiens untuk memulai berbicara. Arti harfiahnya adalah bagaimana kita menyulut api agar para pendengar memfokuskan perhatiannya pada pembicaraan kita. Seperti yang sebelumnya kita bahas, agar MASUK, MENGENA dan MELEKAT. Hal pokok yang terpenting di sini adalah mengambil perhatian pendengar, bisa dengan cerita humoris atau cerita inspirasi.
2. Build a bridge
Sebelum masuk pada materi pokok, kita perlu mengantarkan pendengar pada perumpamaan, cerita aktual yang sedang hangat di masyarakat, agar mampu menarik perhatian lebih jauh. Ini kita upayakan sebagai bahan perantara masuk pada materi pokok yang akan kita bicarakan. Arti harfiahnya adalah bagaimana kita membuat jembatan pembicaraan dari pembukaan dengan gebrakan menuju kepada materi pokok yang akan disampaikan.
3. For instance
Sebagai pembicara, kita menguraikan dan membahas materi pokok, pada tahapan ini. Penyampaian isi materi juga akan lebih bagus jika Anda sampaikan dengan contoh-contoh nyata. Karenanya bagian ini disebut dengan for instance, artinya contoh-contoh yang konkret. Kemampuan menguasai materi, luasnya ilmu pengetahuan, dan kemampuan berempati akan sangat menentukan pada bagian ini.
4. So What
Biasanya, untuk mengakhiri pembicaraan seorang pembicara menutup dengan langkah-langkah tindak lanjut, follow up. Ada beberapa pilihan: bisa melalui sebuah pesan, sebuah harapan, point-point penting ataupun kesimpulan. Dengan mudah kita sepakati, pembicaraan akan berakhir dengan sempurna. Yaitu, ada pembukaan dan ada juga penutupan.
Nah, dari pemaparan di atas, secara sederhana kita dapat menyimpulkan teknik public speaking dasar ini seperti alur berikut :
Ambil perhatian >> Buka dengan info teraktual >> Sampaikan isi dengan contoh konkret >> Sajikan inti pesan.
Satu lagi, hal yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan berbicara di depan umum adalah melakukan persiapan, baik poin-poin yang akan Anda sampaikan, materi, ataupun persiapan mental.
Secara sederhana, pendekatan dasar di atas memang gampang. Ya, Anda tahu, hanya begitu saja. Meski pun dalam prakteknya, membutuhkan pembiasaan. Itulah mengapa, membutuhkan sobat belajar dan berlatih.
Omong-omong, artikel ini masih teori dasar dari teknik public speaking. Pastikan bisa Anda kuasai. Begitu Anda siap, nanti kita teruskan ke pembahasan materi berikutnya.
Karena Rio percaya, public speaking ialah kesempatan menyebarkan motivasi, inspirasi, dan perubahan yang lebih baik. Maka dengan membagikan pengalaman, pengamatan, dan pelatihannya, dalam tulisan di rubrik spesial ini, membantu lahirnya komunikator publik yang melekat dan memberdayakan.
0 komentar

Doa Ketika Turun Hujan


Berikut ini adalah Doa Ketika Turun Hujan, yang merupakan bagian dari rubrik Kumpulan Doa-Doa.

DOA KETIKA TURUN HUJAN

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
(Alloohumma shoyyiban naafi'an)

Artinya :
Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa manfaat.

Keterangan :
Doa ini diambil dari hadits riwayat Al Bukhari

Demikian Doa Ketika Turun Hujan, semoga kita biasa mengamalkan doa tersebut. Doa-doa lainnya bisa diklik di Kumpulan Doa-Doa
0 komentar

Materi Tarbiyah: Syarat Diterimanya Syahadat (2)


Pada Materi Tarbiyah: Syarat Diterimanya Syahadat (1) kita telah membahas dua syarat diterimanya syahadat. Berikut ini akan dibahas kelanjutannya yang berisi lima syarat syahadat. Dengan demikian, postingan ini menjadi bagian terakhir dari Materi Tarbiyah: Syarat Diterimanya Syahadat, yang memang terdiri dari 7 syarat yaitu : Mengetahui, Keyakinan, Penerimaan, Ketundukan, Kejujuran, Ikhlas, dan Cinta. Selamat mengkaji.
***

Penerimaan (Al-Qabuul)

Syahadat bukan kata-kata biasa. Ia adalah pernyataan, sumpah, sekaligus janji. Dengan demikian, jika kalimat syahadat itu tidak dibarengi dengan penerimaan secara total atas semua kandungannya, maka ia tidak bisa lagi disebut syahadat yang benar.

Setiap orang yang mengikrarkan syahadat harus menerima konsekuensi kalimat tersebut dengan hati dan lisannya. Seorang yang berikrar syahadat dengan lisannya akan tetapi hatinya menolak kebenaran disebut sbg munafiq I'tiqady. Seperti Abdullah bin Ubai bin Salul, ia berikrar syahadat tetapi hatinya menolak. Ialah contoh munafiq I'tiqady, kendatipun telah berikrar syahadat, namun tak ada indikasi penerimaan konsekuensi syahadat tersebut dalam dirinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [الأنفال/24]
Wahai orang-orang yang beirman, penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya apabila dia menyeru kepada agama yang menghidupkanmu… (QS. An-Anfal : 24)

Ikrar syahadat baru diterima di sisi Allah apabila disertai penerimaan yang total atas konsekuensi yang menyertainya. Penolakan akan makna dan kandungan syahadat akan berdampak merusak persaksian yang telah diikrarkan.

Allah SWT mengecam kaum yang menolak kalimat tauhid.

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آَلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ (36) [الصافات/35، 36]
Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka "Laa ilaaha illallah" mereka menyombongkan diri. Mereka mengatakan, "Apakah kami harus meninggalkan tuhan-tuhan sesembahan kami hanya untuk mengikuti seorang penyair gila?" (QS. Ash-Shafat : 35-36)

Ketundukan (Al-Inqiyad)

Ikrar syahadat harus diikuti dengan sikap tunduk terhadap kandungan maknanya dan tidak mengabaikan maksud kalimat syahadat tersebut. Sikap membangkang dan tidak mau tunduk thd ketentuan Allah dan rasul-Nya menjadikan ikrar tersebut tidak bermakna. Sesungguhnya makna Islam itu sendiri ketundukan, di mana seseorang yang masuk Islam diharapkan memiliki sikap tunduk dan patuh terhadap segala aturan yang ada di dalamnya.

Allah SWT berfirman,
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ [النساء/125]

Siapakah yang lebih baik agamanya dibanding orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah dan dia adalah orang yang mengerjakan kebajikan… (QS. An-Nisa' : 125)

Nabi SAW bersabda,
لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian, sehingga hawa nafsunya tunduk kepada ajaran yang aku bawa (HR. Imam Nawawi)

Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan konsekuensi keimanan, yang berupa ketundukan sikap tanpa keberatan.
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [النساء/65]
Maka demi Tuhanmu, pada hakikatnya mereka itu tidak beriman sebelum menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak mendapati sesuatu keberatanpun di dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, lalu mereka menerima sepenuhnya. (QS. An-Nisa' : 65)

Ibnu Katsir memberikan penjelasan mengenai ayat ini, "Allah bersumpah dengan diri-Nya Yang Mulia lagi Suci, bahwa Rasul SAW sebagai hakim dalam segala persoalan. Apa saja yang diputuskan oleh Nabi SAW adalah kebenaran yang wajib dipatuhi secara lahir dan batin. Oleh karena itu, Allah mengatakan,… Kemudian mereka tidak mendapati sesuatu keberatanpun di dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, lalu mereka menerima sepenuhnya.

"Artinya, jika mereka bertahkim kepadamu, mereka menaati dalam jiwa mereka lalu tidak mendapati rasa keberatan sedikitpun dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan. Mereka mematuhi hukum itu secara lahir dan batin, sehingga mereka tunduk dan pasrah sepenuhnya tanpa perlawanan, proteksi, apologi, maupun penentangan," demikian penjelasan Ibnu Katsir.

Kejujuran (Ash-Shidq)

Setiap orang yang berikrar syahadat harus melakukannya secara jujur, tidak berpura-pura, atau berdusta. Seyogyanya ucapan lisan sejalan dengan pikiran, sekaligus dengan hatinya. Itulah kejujuran sikap. Yakni mengucapkan persaksian secara bersungguh-sungguh tanpa kepalsuan dan kepura-puraan. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui setiap hamba yang benar dan jujur dalam keimanan maupun hamba yang melakukan kedustaan.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) [البقرة/8، 9]
Dan diantara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal mereka itu sebenarnya bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal pada hakikatnya mereka hanya menipu diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak sadar. (QS. Al-Baqarah : 8-9)

Rasulullah SAW bersabda,
ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله صدقا من قلبه إلا حرمه الله على النار
Tak seorangpun yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dalam hatinya, kecuali Allah mengharamkannya disentuh api neraka. (HR. Bukhari)

Ibnu Rajab mengatakan, "Adapun orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan lidahnya, kemudian ia menaati setan, cenderung bermaksiat, dan menentang Allah sebenarnya perbuatannya itu telah mendustakan perkataannya. Kesempurnaan tauhidnya terkurangi sesuai dengan kadar kemaksiatannya kepada Allah itu dalam menuruti setan dan hawa nafsu."

Kejujuran bukanlah masalah sederhana. Ia perlu diperjuangkan keberadaannya dalam jiwa. Karena nilainya yang demikian tinggi para ulama mengatakan bahwa shidiq adalah salah satu dari induk akhlak.

Rasulullah SAW pun bersabda,
إن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة وإن الرجل ليصدق حتى يكون صديقا وإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا
Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebajikan dan kebajikan mengantarkan kepada surga. Seseorang berbuat jujur hingga menjadi ahli berbuat jujur. Dan sesungguhnya kedustaan mengantarkan kepada kedurhakaan dan kedurhakaan mengantarkan ke neraka. Seseorang berbuat dusta hingga ditetapkan sebagai pendusta. (HR. Bukhari)

Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ [التوبة/119]
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama dengan orang-orang yang jujur. (QS. At-taubah : 119)

Ikhlas (Al-Ikhlash)

Amal yang ikhlas adalah manakala amal yang dikerjakan hanya dalam rangka mendapatkan ridha Allah SWT, tidak untuk mendapatkan ridha siapapun diantara makhluk-Nya. Lawan kata dari ikhlas adalah riya, yaitu beramal dengan tujuan selain Allah. Penyakit riya ibarat virus, jika tidak segera diberantas akan melahirkan penyakit syirik, yaitu menjadikan selain Allah sama kedudukannya dengan Allah SWT.

Amal yang ikhlas dapat menenteramkan hati, sekaligus menjadikan amal ibadah kita diterima Allah SWT. Selain itu, keikhlasan dapat menciptakan semangat untuk berjuang dan menanggung semua resiko dari perjuangan yang dilakukan.

Demikian juga, ikrar syahadat harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharap ridha Allah SWT, bukan karena pengaruh duniawi apa pun dan bukan pula karena pamrih. Dengan itulah, seseorang dapat menjauhkan diri dari segala bentuk kemusyrikan.

Allah SWT berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ [البينة/5]
Mereka itu tidaklah diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama secara lurus… (QS. Al-Bayyinah : 5)

Selain itu, keikhlasan harus senantiasa didampingkan dengan kebenaran. Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Sesungguhnya amal perbuatan jika sudah ikhlas namun tidak benar, tidak akan diterima. Jika benar namun tidak ikhlas, juga tidak diterima, sebelum menjadi amal yang ikhlas dan benar. Ikhlas jika hanya karena Allah, sedangkan benar jika mengikuti Sunah Rasulullah SAW."

Jagalah hati kita untuk senantiasa ikhlas, karena itulah kunci pengabulan amalan dan doa-doa kita. Syirik merupakan penghancur amal, sehingga wajib dijauhi agar tidak merusak persaksian syahadat yang telah diikrarkan.

Cinta (Al-Hub)

Syahadat menuntut konsekuensi dan resiko. Pada umumnya, konsekuensi dan resiko memang berat dan tidak ada yang dapat menanggungnya secara lapang dada selain mereka yang hatinya dipenuhi oleh cinta. Cinta hanya akan lahir dari keridhaan, dan ridha itulah yang menjadikan syahadat diucapkan dengan kesungguhan dan kesadaran hati.

Setiap orang yang bersyahadat harus mencintai kalimatnya, mencintai segala yang menjadi konsekuensinya, sekaligus mencintai orang-orang yang konsekuen dengannya. Orang yang telah mengikrarkan syahadat, ia harus mencintai Allah di atas segala-sagalanya dan mencintai segala sesuatu dalam rangka mencintai Allah SWT.

Allah SWT berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ [البقرة/165]
Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah… (QS. Al-Baqarah : 165)

Syaikh Al-Hafizh Al-Hakami mengatakan, "Indikasi kecintaan seorang hamba kepada Tuhan adalah mendahulukan cinta kepada-Nya sekalipun hawa nafsunya menentang; membenci apa yang dibenci oleh Tuhannya, sekalipun hawa nafsu cenderung kepada hal tersebut; memberikan loyalitas kepada orang-orang yang berwala' kepada Allah dan rasul-Nya; memusuhi siapa pun yang memusuhi Tuhannya; mengikuti Rasulullah SAW, meniti jalan kenabian, dan menerima petunjuk darinya."

Dalam kaitan ini Ibnu Taimiyah berkata, "Mencintai apa yang dicitai kekasih adalah bagian dari cinta kepada kekasih. Kesiapan menanggung resiko yang berat adalah bagian dari cinta kepada kekasih."

Jika ada orang yang bersyahadat tetapi membenci Allah dan Rasul-Nya, maka bukanlah orang beriman. Lebih dari itu, syahadat itu tidak akan sampai menggerakkan hati untuk tunduk dan pasrah serta siap menanggung resiko perjuangan.

Demikianlah syarat-syarat diterimanya ikrar syhadatain. Jika seorang Muslim mampu memenuhi persyaratan tersebut, maka syahadatnya benar dan akan diterima di sisi Allah SWT.

Syahadat yang benar bukan saja mendapatkan penerimaan dari Allah SWT, namun juga menimbulkan perasaan ridha pada kandungannya. Perasaan ridha menjadi titik awal dari segenap sikap berislam secara total. Dengan ridha itulah kita menerima semua beban syariat dengan tulus, dengan ridha itu kita siap memperjuangkan, dan dengan ridha itu pula kita siap menanggung resikonya. Sedangkan kandungan ridha ini adalah ridha bahwa Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi.

Rasulullah SAW bersabda,
من قال حين يمسى رضيت بالله ربًّا وبالإسلام دينًا وبمحمد نبيا كان حقا على الله أن يرضيه
Barangsiapa ketika pagi dan sore mengatakan, "Saya ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul dan Nabi," maka adalah wajib bagi Allah untuk meridhainya. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Hakim). ). [sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]
0 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Media Dakwah Kampus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger